Presiden AS tolak hentikan perang dengan Iran

Jeffry Wuisan
Sabtu, 26 September 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 26/9/26 (Washington): Presiden Amerika Serikat, Donald J Trump, hari Sabtu menolak menghentikan perang dengan Iran. Bahkan Trump akan kembali mengobarkan serangan terbaru ke Iran paling lambat November 2026.


Menurut The Jerusalem Post, Trump menolak tawaran gencatan senjata tujuh hari dari Iran dan mengatakan kepada para ajudannya ia memperkirakan akan melanjutkan pemboman Iran setelah pemilihan paruh waktu 3 November 2026, demikian pejabat AS mengatakan kepada The Wall Street Journal (WSJ).

Iran mengatakan pada hari Sabtu mereka masih menunggu tanggapan resmi AS terhadap usulan rencana tersebut.

Iran berharap jika AS setuju, Selat Hormuz dapat terbuka dan terjadi penghentikan pertempuran regional dalam waktu satu minggu.


Sikap tegas Trump menunjukkan konflik yang kini memasuki bulan ketujuh lebih cenderung kembali ke arah permusuhan daripada kesepakatan.

AS telah memberi tahu Iran dan para mediator mereka tidak berniat mencabut blokade angkatan laut yang dilakukan pasukan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Iran mengemukakan gagasan jeda tujuh hari dalam pertemuan di Qatar pada hari Minggu, menurut sumber yang mengetahui masalah seperti rilis media Türkiye Today.

Berdasarkan proposal Iran tersebut, AS harus mencabut blokade angkatan lautnya, mencairkan beberapa aset Iran, dan mencabut sanksi terhadap ekspor minyak Iran.

Sebagai imbalannya, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz dan memulai negosiasi tentang program nuklirnya.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, kepada wartawan di PBB pada hari Jumat, mengatakan kesepakatan itu akan memicu hitungan mundur tujuh hari untuk membuka kembali selat tersebut dan menghentikan pertempuran regional, termasuk di Lebanon.

“Jika pihak AS benar-benar serius untuk mencapai kesepakatan dan membuka kembali Selat Hormuz, semuanya sudah disiapkan,” kata Araghchi.

Jika Washington setuju, kedua pihak dapat memulai pembicaraan yang lebih luas “mengenai topik-topik yang disepakati bersama,” jelasnya.

Iran juga terlibat konflik dengan Arab Saudi di selat tersebut, menurut laporan Reuters.

Trump ragukan Iran

Para pejabat mengatakan Presiden Trump secara pribadi meragukan Iran akan memenuhi tuntutannya.

Trump secara terbuka mengatakan Teheran memohon kesepakatan pasca-perang tengah semester yang membubarkan program nuklirnya.

Secara pribadi, ia skeptis Iran akan memenuhi tuntutannya dan telah mengatakan kepada stafnya ia melihat kemungkinan terjadinya kembali kampanye pengeboman, kata para pejabat tersebut.

Skala serangan yang sedang dipertimbangkan Trump tidak dapat dipastikan, menurut Journal.

Ia enggan untuk melanjutkan operasi tempur besar-besaran, sebagian karena AS ingin menyimpan amunisi yang semakin menipis untuk kemungkinan-kemungkinan lain, kata para pejabat tersebut.

Tidak terkait politik

Trump mengatakan kepada para pemimpin dunia di Majelis Umum PBB pekan ini politik tidak berperan dalam keputusannya terkait Iran.

“Partai Republik sedang berkampanye, dan saya akan membantu mereka, tetapi saya tidak mencalonkan diri. Saya sama sekali tidak memberikan dan tidak akan memberikan dukungan apa pun selama pemilihan terkait Iran,” papar Trump.

“Satu-satunya hal yang pasti adalah Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” tambahnya.

Presiden AS lebih menginginkan pada tekanan blokade laut daripada gencatan senjata Iran.

Washington meyakini tekanan ekonomi pada akhirnya akan memaksa Teheran untuk menerima persyaratan yang menguntungkan AS dan negara-negara Teluk Arab, kata para pejabat AS.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Journal kedua pihak masih bernegosiasi melalui mediator, termasuk mengenai isu nuklir.

Upaya yang dipimpin Amerika untuk menjaga agar kapal tanker minyak tetap dapat berlayar melalui Hormuz meskipun ada ancaman dari Iran telah mengurangi urgensi untuk mencapai kesepakatan.

Seorang pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim, sebelumnya menyebut pembicaraan mediasi tersebut positif dan konstruktif.

Krisis ekonomi makin parah

Meski Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan siap untuk perang yang panjang dengan AS, namun para mediator Arab mengatakan para diplomat Iran mengingkinkan perang dengan AS segera berakhir.

Mereka mengakui krisis ekonomi yang semakin parah telah terjadi di negara mereka.

Garda Revolusi Iran menginginkan persyaratan lebih mendekati kesepakatan awal bulan Juni, yang menawarkan keringanan sanksi minyak, akses ke aset yang dibekukan, dan peran bagi Teheran dalam mengelola Selat Hormuz sebagai imbalan atas pembukaan kembali jalur air tersebut.

Sejauh ini keinginan IRGC itu sulit terpenuhi, karena pihak AS memakai format perundingan yang berbeda.(P-*/jw)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan