
Usai konferensi pers “Kolintang goes to Paris” tim Kolintang berswafoto. Dalam gambar Penny Ariana Marsetio (Ketum Pinkan) duduk di tengah, diapit Franky Raden (kiri, berjaz kaus kuning), Aldy Sumual (paling kiri), Frans Ratag (kedua dari kanan) dan Ferdinand Soputan (paling kanan). Sementara berdiri di belakang para musisi RoM, (foto, courtecy PINKAN)PRIORITAS, 21/9/26 (Jakarta): Pada 5 Desember 2025, musik Kolintang memperoleh pengakuan dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH), yaitu menjadi bagian dari Warisan Budaya Dunia non-fisik. Tanggal yang bersejarah ini, kemudian ditetapkan oleh Kementerian Kebudayaan RI sebagai Hari Kolintang Nasional.

Perjuangan untuk memperoleh pengakuan dunia internasional tersebut membutuhkan waktu yang cukup panjang. Eksistensi dinamika sosial, budaya, terutama dalam masyarakat itu sendiri dan kebudayaan Minahasa, sempat tersembul bahwa dari mana Kolintang itu berasal.
Pengusulan Kolintang untuk memperoleh pengakuan UNESCO, berasal dari komunitas Kolintang di “Tanah Minahasa”.
Sebagai kata kunci utama dari proses perjuangan panjang itu adalah sebuah organisasi Kolintang tingkat nasional bernama PINKAN, singkatan dari Persatuan Insan Kolintang Nasional Indonesia yang sekarang ini dipimpin oleh Penny Iriana Marsetio.

Dengan dukungan penuh dari PINKAN dan perwakilan Indonesia untuk UNESCO di Paris, akhirnya Kolintang berhasil memperoleh pengakuan dunia Internasional sebagai Warisan Budaya Tak-Benda Dunia.
Berkenaan dengan Pengakuan UNESCO tersebut, pada 27 September sampai 2 Oktober tahun ini, PINKAN di undang oleh KBRI dan kantor pusat UNESCO di Paris untuk tampil menunjukkan kehebatan budaya musik Kolintang di kota Menara Eifel.

Grup Kolintang yang akan berangkat mewakili Indonesia ini bernama Rhythm of Minahasa (RoM) yang dipimpin oleh Ferdinand Soputan, seorang anak muda, pemain Kolintang yang handal.
Sedangkan muhibah musikal ini bertolak ke Paris dipimpin oleh Dr. Franki Raden, seorang komponis dan etnomusikolog yang terlibat dalam memperjuangkan Kolintang mendapat pengakuan di UNESCO.
Di Paris, RoM akan tampil pada acara diplomat yang digelar oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), dan event yang digelar secara khusus oleh UNESCO.
Disamping itu, RoM juga diundang oleh Walikota Paris untuk tampil di Place des Muguets, sebuah tempat terbuka yang menjadi sarana edukasi budaya untuk generasi muda.
Lagu-lagu yang dipersiapkan oleh RoM khusus dirancang untuk menunjukkan kemampuan para pemain Kolintang Indonesia dalam memainkan segala jenis music. Mulai dari lagu-lagu nasional dan daerah, serta genre jazz hingga klasik seperti Rondo Alla Turca, sebuah lagu mahakarya Mozart yang kesohor, dimainkan dengan alat musik Kolintang.
Dengan adanya kesempatan untuk menunjukkan kehebatan musik Kolintang, diharapkan mata dunia akan terbuka bahwa Indonesia adalah sebuah negeri yang memiliki budaya musik asli yang mampu bersanding dengan budaya musik genre blues, rock, jazz maupun klasik Eropa. (P-Rudy FP)

