
Pedagang Rempah di Pasar Sentral Kota Gorontalo, Usman Suratinoyo melayani pembeli di lapaknya Senin (21/9/26). (‘Courtesy’ Antara/Faradila Alim)PRIORITAS, 22/09/26 (Gorontalo): Harga cabai rawit di sejumlah pasar di Gorontalo kembali melonjak. Harga komoditas salah satu kebutuhan utama masyarakat tersebut kini merangkak naik mencapai Rp160 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram. Harga ini lebih dari dua kali lipat dari harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp70 ribu per kilogram.

Kenaikan harga terutama akibat terbatasnya pasokan dari petani lokal akibat musim kemarau. Kondisi tersebut membuat pedagang harus mengandalkan cabai dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan pasar, sementara pasokan dari daerah pemasok juga tidak sepenuhnya lancar.
Pedagang rempah di Pasar Sentral Kota Gorontalo, Usman Suratinoyo, mengatakan kenaikan tidak hanya terjadi pada cabai rawit. Harga cabai keriting juga bergerak naik dari sekitar Rp60 ribu menjadi Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram.
Menurut Usman, minimnya hasil panen petani lokal menjadi salah satu penyebab utama kenaikan harga. Pada saat yang sama, sulit mengandalkan pasokan dari luar daerah karena wilayah pemasok juga menghadapi kondisi kemarau.

Situasi tersebut membuat harga cabai yang masuk ke pasar Gorontalo semakin tinggi. Selain harga dari daerah asal, biaya transportasi turut menjadi komponen yang ikut mendorong kenaikan harga di tingkat pedagang.
Kondisi cuaca ekstrem juga berpengaruh terhadap kualitas cabai pasokan dari luar daerah. Cabai yang tiba di pasar lebih cepat mengalami penurunan kualitas karena kondisi panas dan kering.
Kenaikan harga tersebut tidak serta-merta membuat masyarakat berhenti membeli. Warga tetap mencari cabai karena menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan usaha makanan.
Lonjakan harga bahkan lebih tinggi terjadi di Kabupaten Gorontalo Utara. Sehari sebelum pemberitaan mengenai harga di Kota Gorontalo, Antara News melaporkan cabai rawit bersih tanpa tangkai di Pasar Tradisional Kwandang mencapai Rp200 ribu per kilogram. Sementara harga cabai yang masih bertangkai mencapai sekitar Rp160 ribu per kilogram.
Pedagang di Kwandang menyebut semakin sulit mendapatkan pasokan cabai lokal akibat gagal produksi selama musim kemarau. Pedagang kemudian mendatangkan cabai dari Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, untuk menjaga ketersediaan barang di pasar.
Namun, harga tinggi membuat sebagian pedagang tidak berani menyimpan stok dalam jumlah besar. Konsumen juga lebih banyak membeli dalam jumlah eceran dengan nilai sekitar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Gorontalo Utara Ajuba Thalib mengatakan pemerintah terus memantau pergerakan harga dan ketersediaan stok cabai. Ia berharap, pasokan dari luar daerah, termasuk dari Surabaya, dapat membantu menekan kenaikan harga.
Kondisi pasokan yang terbatas juga sebelumnya terlihat di Kota Gorontalo. Pada 17 September 2026, harga cabai rawit merah di Pasar Sentral Kota Gorontalo berada di kisaran Rp150 ribu per kilogram dan sempat mencapai Rp160 ribu per kilogram pada pekan sebelumnya.
Mengutip Dulohupa.id, pedagang menyebut cabai lokal dari wilayah Bongomeme juga mengalami kenaikan harga di tingkat petani. Sementara pasokan dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah belum mampu sepenuhnya menekan harga karena komoditas dari daerah tersebut juga dibanderol cukup tinggi.
Kenaikan harga cabai terjadi setelah sebelumnya komoditas tersebut masih berada pada kisaran harga normal sekitar Rp70 ribu per kilogram. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap pasokan berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Masyarakat akhirnya harus menyesuaikan pola pembelian. Cabai tetap dibutuhkan, tetapi sebagian konsumen memilih membeli dalam jumlah lebih sedikit untuk menyesuaikan dengan harga yang terus bergerak naik.
Pedagang memperkirakan harga cabai masih berpotensi meningkat apabila pasokan belum kembali normal. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi keberlanjutan musim kemarau dan kemampuan petani untuk kembali menghasilkan cabai dalam jumlah memadai.
Di sisi lain, masuknya pasokan dari luar daerah menjadi salah satu pilihan untuk menjaga ketersediaan komoditas di pasar Gorontalo. Namun, tingginya biaya pasokan dan transportasi membuat harga cabai dari luar daerah juga belum cukup rendah untuk mengembalikan harga ke level sebelumnya.
Kondisi harga cabai ini menjadi perhatian karena komoditas tersebut bukan hanya dikonsumsi rumah tangga, tetapi juga menjadi bahan baku utama bagi pedagang makanan dan pelaku usaha kuliner.
Jika pasokan lokal belum pulih sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, tekanan harga cabai diperkirakan masih akan menjadi persoalan di pasar-pasar Gorontalo. (P-*/sm)

