Pimpinan wilayah Bulog Sulawesi Tengah Jusri memberikan keterangan terkait ketahanan stok beras Sulawesi Tengah. (‘Courtesy’ Antara/Moh Ridwan)PRIORITAS, 18/8/26 (Palu): Perum Bulog terus menjaga stok beras di Sulawesi Tengah. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan daerah.
Pimpinan Wilayah Bulog Sulawesi Tengah Jusri mengatakan stok beras saat ini mencapai 16.973 ton. Bulog menyimpan cadangan tersebut di sejumlah gudang yang tersebar di wilayah Sulawesi Tengah.
Menurut Jusri, stok itu menjadi salah satu penopang kebutuhan pangan masyarakat. Selain itu, cadangan beras tersebut membantu pemerintah menjaga stabilitas pasokan ketika kebutuhan meningkat.
“Stok beras di gudang Bulog mencapai 16.973 ton. Bahan pangan itu disiapkan untuk menjaga stabilitas ketahanan pangan daerah,” kata Jusri di Palu, Selasa (18/8/2026).
Melansir ANTARA News Sulteng, Bulog menyiapkan sebagian stok tersebut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di sejumlah daerah. Wilayah sasaran itu meliputi Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong.
Jusri menegaskan ketersediaan beras menjadi bagian penting dari tugas Bulog. Karena itu, pihaknya memastikan pasokan tetap tersedia ketika masyarakat membutuhkan.
Selain memenuhi kebutuhan sehari-hari, cadangan beras juga memberikan rasa aman kepada masyarakat. Kondisi tersebut semakin penting ketika terjadi peningkatan permintaan bahan pangan di pasar.
Bulog juga menjalankan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Program itu memungkinkan Bulog melakukan intervensi ketika terjadi gejolak harga beras di tingkat pasar.
Selain menjaga stok, Bulog mendapat tugas mempercepat penyerapan hasil produksi petani. Untuk menjalankan tugas tersebut, Bulog bekerja sama dengan mitra penggilingan padi.
Bulog juga melibatkan Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan penyuluh pertanian. Kolaborasi tersebut membantu mempercepat penyerapan gabah dari sentra produksi.
Jusri menyebut capaian penyerapan gabah berjalan cukup progresif. Menurutnya, pola pembelian Bulog memberikan keuntungan ekonomi bagi petani.
Bulog membeli gabah petani dengan harga Rp6.500 per kilogram. Harga tersebut mengikuti ketetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Jusri mengatakan Bulog terus menjalankan peran sebagai penjaga ketersediaan pangan. Pihaknya ingin memastikan masyarakat mendapat akses pangan yang cukup sepanjang waktu.
“Dalam semangat ‘Bulog untuk Indonesia Merdeka’, kami terus menjalankan peran sebagai penjaga ketersediaan pangan,” ujarnya. Ia berharap stok yang cukup memberikan rasa aman bagi masyarakat.
Menurutnya, cadangan beras juga mendukung upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan daerah. Selain itu, ketersediaan stok turut menunjang agenda swasembada pangan nasional.
Perum Bulog secara nasional memang memiliki mandat mengelola cadangan pangan pemerintah. Perusahaan juga menjalankan pengadaan gabah dan beras dalam negeri untuk menjaga kecukupan stok pangan.
Ketersediaan stok menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas pangan. Dengan cadangan yang memadai, pemerintah memiliki ruang melakukan intervensi ketika harga bergerak naik.
Karena itu, Bulog tidak hanya berfokus pada penyimpanan beras. Perusahaan juga menjalankan fungsi pengadaan, penyerapan hasil petani, pengelolaan stok, dan penyaluran pangan.
Bulog juga mengembangkan sistem rantai pasok pangan dari sektor produksi hingga distribusi. Langkah tersebut bertujuan memastikan komoditas pangan tersedia dengan jumlah dan kualitas yang memadai.
Jusri menegaskan Bulog Sulteng akan terus menjaga ketersediaan beras di wilayahnya. Dengan stok yang cukup dan serapan petani yang berjalan, ketahanan pangan daerah diharapkan semakin kuat. (P-*Ant/sm)