
Pasien terdampak gempa dievakuasi di halaman RS Siloam Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Sabtu (15/08) (BBC).PRIORITAS, 15/8/26 (Nusa Tenggara Timur): Tragedi gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 kembali menguji sistem mitigasi bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026). Oleh karena itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) langsung mengerahkan tim gabungan setelah mendata 38 korban jiwa melayang dan ribuan warga terpaksa mengungsi.

Peristiwa tragis ini mempertegas kerentanan kawasan pesisir utara Flores terhadap ancaman pergerakan sesar aktif pembunuh. “Kami mendata 38 jiwa meninggal dunia, dua luka berat, dan 11 luka ringan. Selain itu, sekitar 2.000 warga mengungsi secara mandiri ke perbukitan,” tegas Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto, Sabtu (15/8/2026).

Pegawai hotel mengamankan barang-barang milik wisatawan dari gedung Hotel Jayakarta yang rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/08) (BBC).
Pusat gempa yang berlokasi 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, memicu ingatan publik pada bencana kelam Flores tahun 1992. Selanjutnya, BMKG mengonfirmasi bahwa pergerakan sesar aktif di lepas pantai menjadi penyebab utama guncangan berkedalaman 15 kilometer ini.
Guncangan kuat tersebut sempat memicu gelombang tsunami hingga setinggi satu meter di kawasan Maurole, Ende. Meskipun BMKG telah mengakhiri status siaga tsunami, kecemasan warga tetap tinggi akibat 37 kali gempa susulan yang terus mengguncang tanah NTT.

Namun demikian, bencana ini menyingkap kerapuhan fasilitas publik vital saat menghadapi bencana skala besar. Guncangan keras melumpuhkan dua pelabuhan strategis, yakni Pelabuhan Laurentius Say Maumere dan Pelabuhan Reo, serta merusak gedung terminal di lima bandara udara.
Selain itu, gelombang gempa menghancurkan 54 rumah warga, merobohkan lima puskesmas, dan memutus aliran listrik regional. Akibatnya, evakuasi korban terluka di fasilitas kesehatan terpaksa berlangsung di halaman terbuka demi menghindari bahaya bangunan roboh.
Oleh sebab itu, pemerintah pusat melalui Kementerian Sekretariat Negara menginstruksikan percepatan tanggap darurat di seluruh daerah terdampak. Petugas gabungan TNI, Polri, dan Basarnas kini berkejaran dengan waktu untuk membuka jalan yang tertutup tanah longsor di Nagekeo.
Sementara itu, pihak BNPB mendesak pemda setempat memprioritaskan penyaluran tenda pengungsian, air bersih, dan pasokan logistik bagi warga di perbukitan. Akhirnya, evaluasi terhadap kehandalan struktur bangunan publik di wilayah rawan gempa menjadi mendesak agar jatuh korban jiwa tidak terus berulang. (P-Gio R)

