
Danau Lot Sendow Langowan. (SS GMaps/Stanley Rondonuwu)PRIORITAS, 3/8/26 (Minahasa): Danau Lot Sendow dan Zero Point Langowan dinilai memiliki potensi besar menjadi destinasi wisata terpadu di Sulawesi Utara. Kawasan ini tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga menyimpan kekayaan sejarah perkebunan kopi, jejak pekabaran Injil, pendidikan, wisata kesehatan (wellness), hingga kuliner khas Minahasa.

Dosen Program Doktor (S3) Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi, Prof. Ir. Kawilarang Warouw Alex Masengi, MSc., PhD. menyampaikan pandangannya melalui artikel pada laman taktikinfo.com, Selasa (4/8/26). Menurutnya, seluruh potensi tersebut dapat terangkai menjadi satu narasi wisata yang memperkuat daya tarik Langowan sebagai kawasan bersejarah sekaligus destinasi masa depan.
Masengi menjelaskan, Danau Lot Sendow merupakan salah satu aset alam penting di Langowan yang perlu dijaga kelestariannya. Danau itu tidak hanya berfungsi sebagai objek wisata, tetapi juga menjadi bagian dari sistem ekologis yang menopang kehidupan masyarakat.
Danau berperan sebagai penyimpan air, habitat berbagai organisme perairan, sekaligus ruang sosial bagi masyarakat sekitar. Karena itu, setiap pengembangan wisata harus mengedepankan prinsip konservasi agar fungsi ekologis dan keindahan alamnya tetap terpelihara.

Ia menilai pengembangan berbagai aktivitas, seperti rekreasi keluarga, edukasi lingkungan, hingga perlombaan Remote Control Boat Racing, tanpa mengabaikan upaya pelestarian kawasan.
Langowan juga memiliki sejarah panjang sebagai salah satu sentra perkebunan kopi di Minahasa pada masa Hindia Belanda. Letaknya di dataran tinggi dengan tanah vulkanik yang subur membuat wilayah ini berkembang sebagai kawasan produksi kopi sejak abad ke-19 melalui sistem Koffiestelsel.
Perkembangan perkebunan kopi ikut mendorong pembangunan jalan, pusat perdagangan, dan permukiman masyarakat. Warisan sejarah tersebut, menurut Masengi, layak diangkat kembali melalui pengembangan wisata berbasis kopi.
Konsep pengembangan antara lain kebun kopi edukasi, jalur wisata kopi (coffee walk), museum mini kopi, pengolahan kopi lokal, hingga festival kopi Langowan. Seluruhnya dapat berpadu dengan wisata Danau Lot Sendow sehingga menghadirkan pengalaman wisata yang lebih lengkap.
Selain terkenal sebagai kawasan agraris, Langowan juga memiliki posisi penting dalam sejarah pekabaran Injil di Minahasa. Kawasan ini menjadi salah satu pusat pelayanan misionaris asal Jerman, Johann Gottlieb Schwarz. Misionaris itu datang ke Minahasa bersama Johann Friedrich Riedel pada 1831 melalui Nederlandsch Zendeling Genootschap.
Pelayanan Schwarz tidak hanya membawa perubahan dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga mendorong perkembangan pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat Minahasa.
Sebagai penghormatan atas jasa tersebut, berdiri patung Johann Gottlieb Schwarz di kawasan GMIM Sentrum Langowan. Ia menilai, kawasan Schwarz juga memiliki nilai sejarah tinggi dan berpotensi menjadi destinasi wisata religi dan heritage.
Masengi juga mengusulkan pengembangan Zero Point Langowan sebagai gerbang utama berbagai destinasi wisata di wilayah tersebut. Ia mengusulkan pengembangannya melalui konsep “Gateway to Heritage, Education, Wellness and Culinary Experiences.”
Konsep itu mengintegrasikan wisata sejarah, pendidikan, konservasi lingkungan, wisata kesehatan, hingga wisata kuliner dalam satu kawasan yang saling terhubung.
Wisata sejarah akan menampilkan jejak perkebunan kopi, kawasan Schwarz, gereja-gereja bersejarah, dan peninggalan pekabaran Injil. Wisata pendidikan dapat menghubungkan sekolah, perguruan tinggi, kegiatan penelitian, edukasi konservasi, serta teknologi seperti Remote Control Boat Racing.
Sementara itu, wisata wellness memanfaatkan udara sejuk Langowan dan sumber air panas Ranolewo sebagai daya tarik utama.
Sektor kuliner juga, menurut Masengi, menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata Langowan. Kehadiran R & W Voortuin Cafe dan Resto dapat memperkuat daya tarik kawasan dengan menghadirkan perpaduan kuliner khas Minahasa, hidangan Barat, Tiongkok, dan Jepang.
Masengi menilai konsep tersebut sejalan dengan tren pariwisata modern yang tidak hanya menjual destinasi, tetapi juga menawarkan cerita, budaya, dan pengalaman kepada wisatawan.
Menurut Masengi, Danau Lot Sendow, Zero Point Langowan, sejarah kopi, kawasan Schwarz, pendidikan, teknologi, wellness, dan kuliner merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi.
Apabila seluruh potensi itu dikembangkan secara berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan, Langowan berpeluang menjadi salah satu ikon baru pariwisata Sulawesi Utara yang menggabungkan kekayaan alam, sejarah, spiritualitas, pendidikan, dan budaya dalam satu destinasi. (P-sm)

