
Kekacauan terjadi dalam acara unjukrasa anti militan di kota Kabal, Swat, Pakistan setelah terjadi bom bunuh diri yang diduga dilakukan teroris militan pro Afghanistan, hari Minggu 2 Agustus 2026 waktu setempat. (pakistan today)PRIORITAS, 3/8/26 (Swat/Peshawar): Sebanyak 15 orang, termasuk enam personel polisi tewas ketika seorang teroris meledakkan dirinya dengan bom di tengah antrian peserta demonstrasi anti militan di kota Kabal, Lembah Swat, Pakistan.

Menurut laporan media Pakistan Today, seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Senin (3/8), teroris itu semula dicegah petugas memasuki area unjukrasa, karena dicurigai membawa sesuatu.
Namun ketika petugas hendak menggeledah, ia langsung mengaktifkan pemicu bom rompi yang dipakai di tubuhnya.
Belum ada pihak yang mengaku bertanggungjawab atas serangan brutal itu.
Ratusan orang hadir dalam acara tersebut yang sengaja digelar di luar kantor polisi setempat untuk memprotes meningkatnya kekerasan militan di wilayah tersebut.

Para pendemo juga memprotes ketidakmampuan negara untuk melindungi warga negara.
Mereka mengatakan warga ingin hidup tanpa rasa takut setelah bertahun-tahun mengalami kekerasan yang menghancurkan.
Rekaman video di media sosial menunjukkan seorang pembicara sedang berbicara ketika sebuah ledakan mengguncang area tersebut dan memicu kepanikan di antara para demonstran.
“Pelaku bom bunuh diri meledakkan dirinya ketika diminta untuk digeledah di depan kantor polisi,” kata seorang pejabat polisi setempat.
Bekas benteng Taliban
Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif sama-sama mengutuk serangan tersebut.
“Teroris, tidak akan pernah berhasil dalam upaya jahat mereka untuk merusak perdamaian, persatuan nasional, dan kekuasaan negara”, tegas Zardari.
Pakistan mengalami peningkatan serangan militan akhir-akhir ini, dengan banyak serangan yang menargetkan polisi dan pasukan keamanan.
Lembah Swat merupakan benteng Taliban antara tahun 2007 dan 2009, ketika militer Pakistan mengusir kelompok Islamis tersebut dan menegakkan kembali kendali pemerintah atas wilayah itu.
Sejumlah aparat keamanan curiga militan keagamaan Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) yang pro Taliban Afghanistan mendalangi serangan teror tersebut.
TTP bersekutu dengan, penguasa Taliban Afghanistan dan telah menjadi sumber ketegangan antara negara-negara tetangga tersebut.
Daerah itu adalah tempat tinggal gadis cilik aktivis Hak Asasi Manusia dan peraih Nobel perdamaian, Malala Yousafzai, yang juga ditembak Taliban.
Pada tanggal 9 Oktober 2012, Malala yang baru berusia 14 tahun ditembak Taliban di kepala dan leher ketika kembali pulang di bus sekolah.
Meski kritis, nyawanya tertolong setelah jaringan HAM internasional menerbangkannya ke Inggris untuk dirawat di rumah sakit di Birmingham.
Pakistan menyatakan TTP dan kelompok militan lainnya melakukan serangan di negara itu dengan dukungan penguasa Taliban Afghanistan.
Pihak Pakistan berjanji akan terus menargetkan TTP dan jaringan pendukungnya.(P-*/jw)

