Ketua Sinode GMIM berpeluang dijabat pendeta perempuan? Mantan pimpinan pemuda sinode dorong munculnya figur baru

Sem Muhaling
Sabtu, 1 Agustus 2026
DAERAH Religi 0 233
3 menit membaca

PRIORITAS, 1/8/26 (Manado): Wacana menghadirkan perempuan sebagai Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM mulai mengemuka menjelang pemilihan pimpinan sinode periode 2027. Mantan pimpinan Pemuda Sinode GMIM, Ruben Saerang, menilai sudah saatnya gereja memberi ruang lebih besar bagi pendeta perempuan yang memiliki kapasitas memimpin.

Melansir sulutnews.com, menurut Ruben, GMIM saat ini memiliki banyak pendeta perempuan yang tidak hanya berpengalaman dalam pelayanan, tetapi juga memiliki kemampuan kepemimpinan (leadership), kompetensi akademik, dan dedikasi tinggi untuk melayani jemaat.

“Sudah saatnya kita mulai membicarakan figur-figur calon Ketua Sinode GMIM, termasuk mendorong lahirnya pemimpin dari kalangan pendeta perempuan,” kata Ruben Saerang di Manado, Kamis (30/7/2026).

Ruben menyebut sejumlah nama yang memiliki kapasitas memimpin BPMS GMIM. Di antaranya Pdt. Dr. Jois Sondakh, M.Th., yang kini menjabat Wakil Ketua Sinode GMIM.

Selain Jois Sondakh, ia juga menilai Pdt. Dr. Vanny Suoth, M.Th., dosen Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), memiliki rekam jejak pelayanan yang baik.

Ia juga menyebutkan nama lain yakni Pdt. Dr. Eva Karamoy, M.Th., Ketua Jemaat GMIM Petra Sario Manado, Pdt. Dr. Feybe Lumanauw, M.Th., M.Pc., Ketua Jemaat GMIM Sion Singkil-Gigilang, serta Pdt. Dr. Peggy Sandra Tewu, M.Th., yang juga memiliki semangat pelayanan tinggi.

Menurut Ruben, masih banyak pendeta perempuan lain yang saat ini memimpin jemaat maupun wilayah pelayanan di berbagai daerah. Baik di Manado, Bitung, Tomohon, Minahasa, Minahasa Utara, Minahasa Tenggara, Minahasa Selatan, maupun jemaat GMIM di luar daerah.

Pemilihan ketua sinode GMIM tahun depan

Meski pemilihan Ketua BPMS GMIM diperkirakan baru berlangsung pada Maret atau April 2027, Ruben menilai pembahasan mengenai figur calon sudah layak dimulai sejak sekarang.

Ia mengatakan, GMIM memiliki sekitar 1.088 jemaat yang menjadi basis pelayanan. Dari jumlah tersebut, banyak pendeta perempuan mendapat kepercayaan memimpin jemaat maupun wilayah pelayanan.

“Pendeta laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki kemampuan memimpin. Namun saat ini jumlah pendeta perempuan yang memimpin jemaat dan wilayah cukup banyak sehingga peluang mereka juga semakin terbuka,” ujarnya.

GMIM belum pernah dipimpin pendeta perempuan

Ruben menegaskan, dorongannya bukan untuk mengesampingkan pendeta laki-laki, melainkan membuka kesempatan yang lebih luas bagi perempuan.

Menurut dia, sepanjang sejarah GMIM, belum pernah ada perempuan yang menjabat Ketua BPMS Sinode GMIM.

Ia menilai kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah gereja anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) di berbagai provinsi. Beberapa gereja telah mempercayakan kepemimpinan sinode kepada pendeta perempuan.

Karena itu, Ruben berharap proses pemilihan pimpinan sinode mendatang dapat berlangsung secara demokratis dan melahirkan figur terbaik bagi GMIM, termasuk membuka peluang bagi pendeta perempuan apabila memperoleh dukungan dari utusan jemaat dan wilayah. (P-sm)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025