Berdiri sejak 1924, Watertoren Porong saksi bisu kejayaan infrastruktur Belanda yang masih berdiri kokoh

Sem Muhaling
Selasa, 16 Juni 2026
DAERAH Sejarah 0 216
2 menit membaca

PRIORITAS, 16/6/26 (Sidoarjo): Sebuah bangunan bersejarah, watertoren Porong, berdiri di tengah hiruk-pikuk lalu lintas kawasan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Bangunan tua ini kerap luput dari perhatian. Namun siapa sangka, menara air itu merupakan saksi bisu sejarah sistem penyediaan air minum modern yang dibangun pemerintah kolonial Hindia Belanda hampir satu abad lalu.  

Melansir sejumlah media, bangunan yang didirikan pada tahun 1924 tersebut hingga kini masih berdiri kokoh di kawasan pertigaan Porong. Meski sudah tidak lagi difungsikan sebagai penampung air, watertoren itu telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya karena nilai sejarahnya yang sangat penting.


Dibangun untuk menyuplai air bersih Sidoarjo dan Surabaya

Menurut pegiat budaya Sidoarjo, Sudi Harjanto, Watertoren Porong merupakan bagian dari proyek besar pemerintah kolonial Belanda dalam membangun jaringan distribusi air bersih bagi masyarakat dan kawasan industri di wilayah Sidoarjo hingga Surabaya.

Pada masa itu, pemerintah Hindia Belanda membangun sekitar 13 tandon air di sejumlah titik strategis. Infrastruktur tersebut berfungsi sebagai tempat penampungan sekaligus pusat distribusi air bersih bagi warga.

Watertoren Porong menjadi salah satu yang paling ikonik karena lokasinya yang strategis serta bentuk bangunannya yang masih relatif utuh hingga saat ini.

Air pernah dialirkan dari Kasri Pandaan

Sebelum memanfaatkan sumber air Umbulan seperti saat ini, pasokan air bersih untuk wilayah Sidoarjo dan sekitarnya berasal dari kawasan Kasri, yang berada di jalur menuju Pandaan.

Jejak-jejak instalasi pengambilan air peninggalan Belanda masih dapat ditemukan di kawasan tersebut. Dari sana, air dialirkan melalui jaringan perpipaan menuju berbagai tandon dan menara air yang tersebar di sejumlah wilayah.

Bukti politik infrastruktur era kolonial

Pembangunan sistem distribusi air bersih oleh pemerintah kolonial tidak terlepas dari kebijakan pembangunan infrastruktur yang berkembang pada awal abad ke-20. Berbagai menara air dan tandon dibangun di sejumlah daerah di Jawa untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi permukiman dan pusat-pusat ekonomi.

Keberadaan watertoren Porong menjadi bukti bahwa teknologi pengelolaan air modern telah diterapkan di Jawa Timur sejak era kolonial. Bangunan tersebut juga menggambarkan bagaimana pemerintah Hindia Belanda membangun sistem waterleiding atau jaringan air ledeng yang kemudian menjadi cikal bakal layanan PDAM modern saat ini.


Warisan sejarah yang perlu dijaga

Meski telah berusia lebih dari 100 tahun, watertoren Porong masih berdiri tegak menghadapi perubahan zaman. Keberadaannya bukan sekadar bangunan tua, melainkan pengingat perjalanan panjang pembangunan infrastruktur air bersih di Indonesia.

Di tengah pesatnya modernisasi, bangunan bersejarah seperti watertoren Porong menjadi warisan berharga yang layak dilestarikan agar generasi mendatang dapat memahami bagaimana teknologi dan pelayanan publik berkembang dari masa ke masa. (P-sm)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan