Ratusan Pelukis pamerkan lukisan dalam “Bulan Indonesia Menggambar”

Admin
Senin, 18 Mei 2026
Seni Budaya 0 445
3 menit membaca

PRIORITAS, 18/5/26 (Yogyakarta): Perkumpulan Indonesia Raya Menggambar telah menyerahkan naskah akademik usulan penetapan bulan Mei sebagai “Bulan Indonesia Menggambar” kepada Kementerian Kebudayaan RI. Langkah ini menjadi tonggak awal dalam memperjuangkan pengakuan nasional terhadap praktik menggambar sebagai bagian penting ekosistem kebudayaan Indonesia.

Naskah akademik tersebut, seperti dikutip dari MNC Trijaya Kendari, disusun oleh tim formatur Indonesia Menggambar 2026, yang menegaskan bahwa menggambar bukan sekadar keterampilan teknis seni rupa, melainkan praktik budaya yang memiliki dimensi edukatif, historis, psikologis, filosofis, hingga sosial.

Disebutkan, dalam kajian tersebut, menggambar diposisikan sebagai medium strategis dalam penguatan literasi visual, pengembangan kognitif, ekspresi emosional serta pembentukan karakter individu dan masyarakat.

Secara historis, praktik menggambar di Indonesia memiliki akar panjang sejak masa prasejarah, yang ditandai dengan keberadaan lukisan gua di berbagai wilayah Nusantara, termasuk di Kalimantan dan Sulawesi.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa menggambar telah menjadi kiat manusia nusantara berkomunikasi, merekam pengalaman dan membangun sistem pengetahuan sejak ribuan tahun lalu.

Diterangkan, dari sisi pendidikan, aktivitas menggambar dinilai berkontribusi besar dalam meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, kreativitas, serta keterampilan motorik halus. Selain itu, menggambar juga menjadi media ekspresi dan katarsis yang membantu individu mengelola emosi dan menjaga keseimbangan psikologis.

Pemilihan bulan Mei sebagai Bulan Indonesia Menggambar (BIM) didasarkan pada momentum nasional penting, seperti Hari Pendidikan Nasional (2 Mei), Hari Perpustakaan Nasional (17 Mei), Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei), serta momentum kelahiran pelukis modern Indonesia, Raden Saleh Syarif Bustaman.

Sejak 2022, komunitas yang tergabung dalam Perkumpulan Indonesia Raya Menggambar telah menginisiasi gerakan kolektif menggambar secara nasional melalui deklarasi Hari Menggambar Nasional dan penyelenggaraan kegiatan seni gambar serentak dari komunitas di sembilan zona wilayah Indonesia.

Kegiatan tersebut meliputi pameran, workshop, kelas edukasi, hingga aktivasi ruang publik yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.

Pembukaan pameran ini, dijadwalkan berlangsung mulai hari ini Senin, 18 Mei 2026, di teras Galeri RJ Katamsi, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, jalan Parangkritis km 6.5, Bantul, Yogyakarta.

Tommy Awuy akan manampilkan salah satu karya lukisan yang diberi judul ‘Bangkit Keadilan’. (Foto: courtecy Tommy Awuy)


Tommy Awuy menampilkan lukisan ‘Dewi Keadilan’

Diantara peserta pelukis yang diundang secara khusus, adalah Tommy Awuy. Mantan dosen Universitas Indonesia (UI) ini, akan manampilkan salah satu karya lukisan yang diberi judul ‘Bangkit Keadilan’.

Menurut Tommy, guratan karya lukisan ‘Bangkit Keadilan’ di gambarkan seorang “dewi keadilan” yang merupakan lambang hukum-keadilan dimana-mana, tertutup mata; ‘tanpa pandang bulu’.

Sedangkan, gambar memegang timbangan sebagai simbol menegakkan keadilan. “Dewi keadilan, sekarang sedang menghunuskan pedang dan marah, dan tuntutan keadilan akan terus menggema sehingga tidak akan terbendung,” kata Tommy memberi arti pada lukisannya itu yang di kirim kepada Beritaprioritas.com.

Dalam list undangan khusus pameran lukisan tersebut, terdapat nama-nama pelukis kesohor, walaupun sudah almarhum yang karya lukisnya akan dipamerkan, seperti Dullah, Daud Joesoef, dan Ki Hajar Dewantara.

Dengan mengambil tema “Kebangkitan Gambar, Mengambar Kebangkitan” pembukan pemeran di teras ISI ini, akan di mulai pukul 15.30, dan dimeriahkan dengan penampilan para musisi Yogyakarta. (P-*r/rp)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025