PRIORITAS, 7/6/26 (Washington): Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali beri ultimatum dengan mengancam akan lakukan pengeboman dahsyat ke Iran sehingga memanaskan tensi geopolitik Timur Tengah. Trump mengancam akan melanjutkan serangan militer berskala besar jika Teheran tidak segera menyetujui kesepakatan terkait program nuklir dan pembukaan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Ancam bombardir dahsyat ke Iran
Dalam pernyataan terbarunya, Trump disebut mengancam akan “membombardir Iran pada level lebih tinggi” apabila pemerintah Iran menolak tuntutan Washington. Ancaman itu muncul di tengah meningkatnya konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sepanjang 2026.
Media internasional melaporkan, ultimatum pengeboman dahsyat tersebut berkaitan dengan negosiasi penghentian perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia. Trump bahkan disebut memberi tenggat waktu kepada Iran untuk menyetujui proposal damai yang sedang dimediasi sejumlah negara, termasuk Pakistan.
Baca juga: Selat Hormuz memanas, AS hancurkan 7 kapal cepat Iran melalui ‘Project Freedom’
Laporan media internasional
Reuters menyebut Iran sebelumnya menawarkan proposal pembukaan Selat Hormuz sebelum pembicaraan nuklir dimulai. Namun, proposal itu ditolak Trump karena dianggap belum menjamin penghentian penuh program pengayaan uranium Iran.
Sementara itu, The Guardian melaporkan ancaman terbaru Trump muncul bersamaan dengan aksi militer AS terhadap kapal tanker berbendera Iran yang mencoba menerobos blokade laut Amerika. Trump juga disebut siap melanjutkan operasi pengeboman jika Iran tidak tunduk pada kesepakatan yang diinginkan Washington.
Demikian juga yang dilansir dari The Times, Trump mengancam akan “bomb the hell out of Iran” apabila negosiasi gagal mencapai titik temu. Pemerintah AS dikabarkan tengah menyusun memorandum 14 poin yang mencakup penghentian pengayaan uranium Iran, pembukaan jalur pelayaran, hingga pengurangan sanksi ekonomi.
Ultimatum 24 jam
Ketegangan meningkat sejak Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar ke sejumlah fasilitas militer Iran. Konflik itu kemudian memicu penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan mengguncang pasar energi global.
Trump sebelumnya juga sempat mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Iran agar membuka Selat Hormuz. Jika tidak dipenuhi, AS mengancam menyerang infrastruktur energi dan fasilitas strategis Iran.
Teheran masih memiliki cadangan rudal
Meski Trump mengklaim Iran mulai melemah akibat blokade ekonomi dan serangan udara, laporan intelijen AS justru menyebut Teheran masih memiliki cadangan rudal dan kemampuan bertahan selama beberapa bulan ke depan.
Hingga kini, pemerintah Iran belum menunjukkan tanda-tanda menyerah. Teheran menegaskan tidak akan tunduk terhadap tekanan militer maupun ancaman Amerika Serikat, sementara negosiasi damai masih berlangsung alot di tengah ancaman perang yang sewaktu-waktu bisa kembali meledak di kawasan Timur Tengah.(P-sem)