

PRIORITAS, 4/5/26 (Jakarta): Nama Frankie MacDonald mendadak jadi perbincangan setelah ia menyebut Indonesia berpotensi dilanda gempa berkekuatan magnitudo 7 atau lebih.

Pengamat cuaca asal Nova Scotia itu mengunggah peringatan melalui media sosial, disertai imbauan agar masyarakat segera menyiapkan perlengkapan darurat.
“Ini akan merobohkan jalur listrik, mematahkan dahan pohon, dan merusak bangunan,” tuturnya, dikutip dari Beritasatu.com, Senin (4/5/26).
Ia juga mendorong warga menyiapkan tas siaga bencana, mulai dari kotak medis hingga persediaan air dan baterai cadangan.

Fenomena ini cepat menyebar di Indonesia. Sebagian warganet menanggapinya serius, sementara lainnya mempertanyakan dasar prediksi tersebut.
Frankie bukan nama baru di internet. Ia dikenal sebagai pengamat cuaca amatir dengan jutaan pengikut dan gaya khas yang lugas. Popularitasnya melonjak setelah mengunggah peringatan sebelum gempa berkekuatan 7,8 magnitudo mengguncang Kaikoura, Selandia Baru pada 2016.
Peristiwa itu membuatnya kerap dianggap memiliki “insting” terhadap bencana alam.
Namun kalangan ilmuwan memberi catatan berbeda. Lembaga seperti United States Geological Survey menilai keberhasilan tersebut lebih tepat dilihat sebagai kebetulan.
Secara ilmiah, gempa bumi belum dapat diprediksi secara akurat, baik dari sisi waktu, lokasi, maupun kekuatannya.
Sejumlah prediksi Frankie sebelumnya juga tidak terbukti, termasuk peringatannya untuk wilayah California pada 2017.
Meski demikian, pesan yang ia sampaikan soal kesiapsiagaan tetap dinilai relevan, terutama bagi negara seperti Indonesia yang berada di kawasan cincin api.
Para ahli menilai peringatan semacam ini bisa dimaknai sebagai pengingat untuk meningkatkan kewaspadaan, bukan sebagai kepastian akan terjadinya bencana.
Protokol keselamatan tetap menjadi rujukan utama. Saat gempa terjadi, masyarakat dianjurkan berlindung di bawah meja jika berada di dalam ruangan, serta menjauh dari bangunan jika berada di luar.
Di tengah viralnya peringatan tersebut, publik diingatkan untuk tetap mengandalkan informasi resmi dari lembaga berwenang, sambil menjaga kesiapan menghadapi risiko bencana yang memang nyata.

