

PRIORITAS, 3/5/2026 (Manado): Ditengah gemuruh pujian dan ribuan kader yang memenuhi Ballroom Sutan Raja, satu sosok tampak tak banyak berdiri di panggung, tetapi justru sibuk memastikan semuanya berjalan sempurna, Siapa? Dialah Rio Dondokambey.

Bagi banyak orang, ia adalah Ketua Panitia. Namun bagi tim di lapangan, Rio adalah motor penggerak yang hadir sejak awal, mengawal proses panjang hingga puncak acara Ibadah Paskah Nasional dan Dies Natalis ke-64 GAMKI akhirnya berlangsung sukses, Senin (27/4/2026).
Sekretaris Umum Panitia, Arfin Mapia, mengisahkan bagaimana peran Rio terasa nyata, bahkan dalam hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian.
“Terima kasih kepada Bung Rio Dondokambey yang mensupport penuh kegiatan ini. Bukan hanya sebagai ketua di atas kertas, tapi benar-benar turun langsung. Dari hal teknis sampai koordinasi besar, beliau terlibat,” tutur Arfin.

Ia bercerita, di balik panggung megah dan acara yang tersusun rapi, ada komunikasi yang tak pernah putus, dorongan semangat yang terus diberikan, serta keputusan-keputusan cepat yang memastikan setiap kendala bisa diatasi.
“Beliau itu bukan tipe yang hanya memberi arahan. Tapi ikut merasakan ritme kerja panitia. Itu yang membuat kami merasa tidak bekerja sendiri,” tambahnya.
Tema “Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita” seolah tidak hanya digaungkan dalam ibadah, tetapi juga tercermin dalam cara acara ini dipersiapkan penuh kebersamaan, kerja keras, dan semangat melayani.
Rio sendiri, dalam sambutannya, tidak banyak berbicara soal perannya. Ia justru memilih menyoroti kerja kolektif dan kebanggaan karena Bolaang Mongondow Raya mampu menjadi tuan rumah kegiatan nasional.
“Kami bangga. Ini bukti bahwa daerah juga bisa menyelenggarakan kegiatan besar dengan baik,” ujarnya singkat, disambut tepuk tangan.
Namun di balik kalimat sederhana itu, tersimpan perjalanan panjang. Rangkaian kegiatan selama sebulan, mulai dari Cerdas Cermat Alkitab hingga lomba paduan suara, yang semuanya menjadi bagian dari upaya membangun iman dan kebersamaan kader.
Kehadiran tokoh nasional seperti Todotua Pasaribu dan Dzulfikar Ahmad Tawalla semakin menguatkan posisi kegiatan ini sebagai agenda penting berskala nasional.
Malam itu, saat lampu-lampu ballroom meredup dan lagu penutup dinyanyikan, satu hal terasa jelas. Kesuksesan acara ini bukan hanya soal panggung, dekorasi, atau jumlah peserta. Ia adalah hasil dari kerja yang dijalankan dengan komitmen. (P-Deon Y. Wonggo)

