Acara tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh, di antaranya Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, anggota BPK RI Bobby Rizaldi, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutarjo, para gubernur dari Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, dan Jambi, Bupati Blora Arief Rohman, serta sejumlah pelaku industri dan figur publik seperti Helmy Faishal Zaini, Andi Rahmat, Febrian Ananta Kahar, Perikhsa Charles Wicaksana, Jeremy Thomas, Lilo KLA, dan Katon Bagaskara.
Persaingan hingga kekuatan merek
Ia menjelaskan, industri cerutu global masih didominasi negara-negara dengan reputasi kuat. Permintaan dunia terus meningkat dengan nilai pasar diperkirakan mencapai 58 miliar dolar AS pada 2025, sementara kinerja ekspor Indonesia cenderung fluktuatif bahkan sempat menurun. Di sisi lain, negara seperti Belgia, Jerman, dan Spanyol justru semakin memperkuat posisinya. Hal ini menunjukkan, persaingan tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga strategi pemasaran dan kekuatan merek.
“Meskipun ekspor tembakau Indonesia terus tumbuh dengan rata-rata kenaikan sekitar 4,8 persen per tahun, posisi Indonesia dalam pasar dunia masih tertinggal. Indonesia baru berada di kisaran peringkat menengah sebagai eksportir tembakau dunia, sementara negara lain telah melompat jauh dengan mengembangkan industri hilir berbasis brand premium,” kata Bamsoet.
Ia menjelaskan, industri cerutu nasional sejatinya telah lama berkembang. Kabupaten Jember, misalnya, sejak masa kolonial dikenal sebagai sentra tembakau cerutu berkualitas tinggi dan hingga kini tetap menjadi penopang utama produksi nasional. Produk dari daerah tersebut telah dipasarkan ke Eropa, Asia, hingga Amerika, sekaligus menjadi bagian dari identitas ekonomi dan budaya setempat.
Data menunjukkan, ekspor tembakau Jember pada 2023 menembus lebih dari tiga juta kilogram dengan nilai sekitar USD 31,9 juta. Selain itu, sejumlah produsen cerutu juga mulai memperluas pasar global dengan merek sendiri, termasuk ke Malaysia dan Thailand, dengan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini bukti bahwa cerutu Indonesia sudah mulai diterima pasar internasional. Tinggal bagaimana kita meningkatkan skala, konsistensi kualitas, dan memperkuat narasi sebagai produk premium,” imbuh Bamsoet.
Cerutu telah berkembang pesat
Ia menambahkan, di dalam negeri, sejumlah merek cerutu telah berkembang pesat, seperti BIN Cigar di Jember yang aktif menembus pasar ekspor, Taru Martani di Yogyakarta dengan warisan sejarah panjang, hingga produsen lain seperti Djarum Cigarillos, Bamsoet Cigar, serta pelaku UMKM yang terus bertumbuh. Bahkan, terdapat ratusan varian merek cerutu yang diproduksi, menunjukkan besarnya potensi industri ini jika dikelola secara terpadu.
Sementara itu, keunggulan Indonesia terletak pada tembakau lokal seperti Besuki Na-Oogst yang dikenal sebagai salah satu bahan pembungkus cerutu terbaik di dunia. Didukung tanah vulkanik dan iklim tropis, tembakau Indonesia memiliki cita rasa khas yang menjadi nilai pembeda di pasar global.
“Saat ini pasar cerutu dalam negeri masih relatif kecil, hanya sekitar 20–30 persen dari total produksi atau sekitar 1–2 juta batang per tahun. Artinya masa depan industri cerutu Indonesia memang ada di pasar internasional. Karena itu strategi ekspor harus menjadi prioritas utama, termasuk dukungan diplomasi ekonomi dan promosi,” tutur Bamsoet. (P-*r/Zamir Ambia)