
Foto lama pemimpin Iran yang baru, Mojtaba Khamenei. Ia dilaporkan dalam keadaan kritis tak sadar akibat terluka setelah serangan pengeboman AS-Israel. (visegrad24)PRIORITAS, 7/4/26 (Teheran): Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Iran.”>Mojtaba Khamenei, ternyata masih dalam kondisi koma, tidak sadarkan diri, di kota Qom, sekitar 156 kilometer barat daya Teheran, Iran.

Menurut informasi yang diperoleh Beritaprioritas.com, hari Selasa (7/4/26), Mojtaba kini sedang dalam perawatan medis intensif, setelah mengalami luka parah akibat serangan AS-Israel terhadap bunker perlindungan bawah tanah mereka di Teheran 28 Februari 2026.
Serangan itu menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah jenderal Iran, yang sedang melakukan pertemuan rahasia.
Sebuah memo diplomatik berdasarkan intelijen Amerika dan Israel seperti dilaporkan media Jerusalem Post, menyatakan Mojtaba tidak memimpin atau mengendalikan Iran selama perang, karena ia masih dalam kondisi kritis.

Meskipun klaim tersebut belum diverifikasi secara independen, hal ini memperdalam ketidakpastian mengenai siapa yang menjalankan Iran, sebab Mojtaba yang disebut sebagai pemimin tertinggi Iran yang baru, namun tidak mampu mengambil bagian dalam pengambilan keputusan.
Laporan tersebut juga menyebutkan memo itu dibagikan kepada negara sekutu di Teluk. Tampaknya ini merupakan dokumen pertama yang melaporkan lokasi Khamenei dan belum pernah dipublikasikan.
Dipegang IRGC
Meskipun para pejabat Iran bersikeras ia tetap memegang kendali, ketidakhadirannya di depan publik sejak konflik dimulai, telah memicu spekulasi kekuasaan mungkin dipegang Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang sekarang memegang kendali de facto.
Laporan itu juga menyebutkan dua pernyataan dikaitkan dengan Mojtaba Khamenei telah disiarkan di televisi pemerintah Iran sejak perang dimulai, tetapi tidak ada audio atau video dirinya berbicara langsung.
Ketidakhadiran Mojtaba secara fisik tersebut menambah klaim dari sumber-sumber oposisi, yang menyatakan ia memang masih dalam kondisi tidak berdaya.
Memo yang sama, menurut The Times, menyebutkan persiapan sedang dilakukan di Qom untuk sebuah musoleum besar bagi mendiang Ali Khamenei dan mungkin anggota keluarga lainnya.
Jika benar, hal itu akan berbeda dari laporan Iran sebelumnya tentang rencana pemakaman Ali Khamenei diadakan di Teheran.
Penundaan pemakaman Ali Khamenei merusak ilusi Iran tentang pemerintahan yang terkendali. Bahkan upacara kenegaraan juga menimbulkan pertanyaan.
Otoritas Iran sebelumnya mengatakan upacara tersebut ditunda, karena diperkirakan akan ada jumlah pelayat yang sangat besar.
Ketidakpastian yang berkelanjutan telah menarik perhatian, karena adat Syiah secara tradisional lebih menyukai penguburan segera setelah kematian.
Kota Qom telah memainkan peran sentral dalam kisah suksesi pasca-Khamenei.
Pada awal Maret, serangan Israel di Qom menghantam gedung tempat Majelis Pakar, yang beranggotakan 88 orang dilaporkan sedang mengadakan pertemuan untuk memilih pengganti Ali Khamenei.
Ini menggarisbawahi peran sentral kota tersebut, dalam proses suksesi ulama dan struktur kekuasaan rezim Iran. (P-Jeffry W)

