Komando Pusat AS, Centcom, Kamis malam merilis gambar serangan AS menghancurkan target angkatan laut Iran yang mengancam kapal-kapal di dan dekat Selat Hormuz.(ho-uscentcom)PRIORITAS, 19/3/26 (Washington): Militer Amerika Serikat (AS) menggempur pangkalan (situs) peluru kendali (Rudal) Iran di dekat Selat Hormuz, dengan menggunakan bom penghancur bunker seberat 5.000 pound atau sekitar 2,3 ton (2300 kg).
“Pasukan AS berhasil menggunakan beberapa amunisi penetrator dalam (deep penetrator) seberat 5.000 pon terhadap situs-situs Rudal Iran yang diperkuat di sepanjang garis pantai Iran dekat Selat Hormuz”, demikian pernyataan Komando Pusat AS, US Centcom, seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Kamis (19/3/26).
Menurut US Centcom, rudal jelajah anti-kapal Iran di situs-situs ini, telah menimbulkan risiko bagi pelayaran internasional di selat tersebut.
Laporan terbaru setidaknya 22 kapal telah diserang militer Iran di Selat Hormuz hingga hari ke-19 perang dengan AS-Israel. Jumlah itu terdiri dari 12 kapal tanker minyak, 3 kapal kontainer dan 3 kapal bulk carrier. Beberapa di antaranya terbakar dan belasan kru (ABK) tewas dan hilang.
Militer AS melaporkan serangan pengemboman ke pangkalan Rudal Iran itu, dilakukan Selasa (17/3/26) waktu setempat dan berhasil menghancurkan situs Rudal Iran yang menghadap ke Selat Hormuz.
Centcom menyebut serangan ini dilakukan setelah Iran menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur air strategis yang dilewati seperlima distribusi minyak dunia.
Bom tipe terbaru
Informasi dari sumber militer AS menyebutkan, bom yang digunakan dalam serangan tersebut adalah tipe terbaru, GBU-72.
Bom ini dikenal sebagai Advanced 5K Penetrator (atau A5K), adalah bom berpemandu presisi jenis penetrasi bunker (bunker buster) yang dikembangkan Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF).
Bom ini dirancang khusus untuk menghancurkan target yang sangat keras dan terkubur dalam, seperti bunker bawah tanah, situs Rudal, atau struktur yang diperkuat secara berat.
Spesifikasi utama bom ini mempunyai berat Sekitar 5.000 pon (2.300 kg), dengan menggunakan hulu ledak penetrasi yang diperkuat (seperti BLU-138/B).
Bom itu memakai selubung baja yang sangat keras untuk menembus tanah, batu, atau beton bertulang dalam sebelum meledak.
Bom ini memakai sistem panduan kit ekor JDAM (Joint Direct Attack Munition) yang dimodifikasi dengan GPS dan sistem navigasi inersia (INS) untuk akurasi tinggi dan kemampuan segala cuaca.
Dalam perut bom terdapat sekitar 1.000–1.100 pon bahan peledak berkekuatan tinggi (campuran PBXN-109 dan AFX-757).

Pejabat AS mengkonfirmasi bom GBU-72 Advanced 5K Penetrator seperti ini dengan beratnya sekitar 2300 kilogram yang dipakai AS menyerang situs rudal Iran di dekat Selat Hormuz.(x.archer83able)
Rp4,8 miliar per buah.
Harga per bom GBU-72 ini sekitar $288.000 per unit atau sekitar Rp 4,8 miliar per buahnya (senjata lengkap).
Bom ini dapat diluncurkan dari pesawat tempur seperti F-15E Strike Eagle serta pesawat pengebom lain.
GBU-72 dikembangkan untuk mengisi celah antara bom penetrasi taktis yang lebih kecil (kelas 2.000 pon seperti GBU-31 dengan BLU-109).
Bom GBU-72 memang lebih ringan dibandingkan bom GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP) seberat 30.000 pound atau sekitar 13.600 kilogram, yang digunakan AS untuk mengebom tiga fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz dan Isfahan pada Juni tahun 2025 lalu.
Bom ini dimaksudkan sebagai pengganti GBU-28 (dari tahun 1991), dengan peningkatan daya hancur, ketahanan, fuzing cerdas, dan performa lebih baik terhadap target keras, sambil membutuhkan lebih sedikit senjata untuk mencapai hasil mematikan.
Penggunaan tempur terbaru dilaporkan digunakan untuk pertama kalinya dalam pertempuran selama serangan AS (dalam Operasi Epic Fury) terhadap situs rudal Iran yang diperkuat di sepanjang pantai dekat Selat Hormuz kali ini.
Serangan melibatkan platform seperti F-15E dan kemungkinan pesawat pengebom B-2.
Ini menempatkan GBU-72 sebagai opsi kelas menengah dalam arsenal AS untuk menembus target yang diperkuat tanpa memerlukan skala besar seperti MOP. (P-Jeffry W)