Deon Yohanes Wonggo (kiri). (dok. GMNI)PRIORITAS, 14/3/2026 (Manado): Konsep Sarinah sebagai ideologi dan gerakan kader perempuan dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kembali menjadi sorotan dalam kegiatan PPAB Komisariat Polimdo yang digelar Dewan Pimpinan Cabang GMNI Manado periode 2025–2027 Gerbong Wisma Trisakti.
Deon Yohanes Wonggo selaku pemateri dalam kegiatan tersebut menekankan bahwa Sarinah merupakan gagasan yang berakar dari pemikiran Soekarno mengenai emansipasi perempuan dan perjuangan melawan penindasan berbasis gender, kesetaraan maupun budaya.
Menurut Deon, konsep Kesarinahan mendorong perempuan untuk menjadi subjek perjuangan yang aktif dalam kehidupan sosial dan politik, bukan sekadar objek pembangunan.
“Kesarinahan bertujuan meningkatkan kesadaran kritis perempuan serta mendorong mereka berperan aktif dalam perjuangan sosial bersama laki-laki untuk membangun masyarakat yang adil dan merdeka,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa istilah Sarinah diambil dari nama Mbok Sarinah, pengasuh kecil Soekarno yang dikenal sebagai sosok perempuan sederhana, penuh kasih, dan memiliki semangat pengabdian kepada rakyat kecil. Dalam tradisi GMNI, seluruh kader perempuan dipanggil “Sarinah” sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai perjuangan tersebut.
Dalam struktur organisasi GMNI, konsep ini kemudian berkembang menjadi Korps Sarinah, wadah kader perempuan untuk berdiskusi, belajar politik, melakukan advokasi, serta memperkuat kepemimpinan perempuan dalam gerakan mahasiswa.
Kesarinahan juga menekankan nilai-nilai kesadaran kelas dan gender, semangat kesetaraan, kolektivitas, intelektualitas, serta praksis dalam perjuangan sosial.
Dalam pemaparannya, Deon turut menjelaskan perbedaan konsep Sarinah dengan tokoh emansipasi perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Jika Kartini dikenal sebagai simbol kebangkitan perempuan melalui pendidikan dan gagasan intelektual, maka Sarinah dipahami sebagai simbol perjuangan perempuan rakyat yang terlibat langsung dalam gerakan sosial dan revolusi untuk kesejahteraan masyarakat.
Menurut pemikiran Soekarno dalam bukunya Sarinah, emansipasi perempuan tidak hanya berhenti pada hak individu seperti pendidikan dan kebebasan memilih, tetapi harus berlanjut pada keterlibatan aktif perempuan dalam perjuangan sosial demi keadilan dan kesejahteraan rakyat.
Melalui kaderisasi seperti PPAB, GMNI berharap nilai-nilai Kesarinahan dapat terus hidup dalam diri kader perempuan sebagai semangat untuk berpikir kritis, mandiri, serta berjuang bersama dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan setara. (P-tim)