Rabbi Yaakov Baruch: Konflik Israel–Iran Bukan Perang Agama
PRIORITAS, 9/3/2026 (Tondano, Minahasa): Di tengah memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah, komunitas lintas iman berkumpul dalam kegiatan diskusi dan buka puasa bersama yang digelar di Synagogue Tondano, Sulawesi Utara.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka untuk memahami situasi global sekaligus memperkuat semangat toleransi antarumat beragama.
Dalam kegiatan tersebut, Rabbi Yaakov Baruch memaparkan pengenalan agama Yahudi serta sejarah kedatangan orang Yahudi di Sulawesi Utara kepada para undangan yang hadir dari berbagai komunitas agama dan organisasi masyarakat.
Rabbi Yaakov Baruch juga menyampaikan keprihatinannya terhadap konflik yang terjadi di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dalam press release yang dibacakan pada acara tersebut, ia menyerukan agar perang segera dihentikan.
“Perang yang terjadi saat ini menimbulkan korban sipil di kedua belah pihak. Selain itu, konflik berkepanjangan berpotensi menimbulkan dampak global, termasuk kemungkinan gangguan pasokan dan kenaikan harga BBM yang juga bisa dirasakan masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Rabbi Yaakov Baruch menegaskan bahwa konflik yang berlangsung tidak dapat disederhanakan sebagai perang agama antara Yahudi dan Muslim.
Menurutnya, konflik tersebut lebih berkaitan dengan perebutan sumber daya alam, khususnya minyak, serta dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah, termasuk isu pengembangan nuklir oleh Iran yang dikhawatirkan dapat mengancam keberadaan Israel dan negara-negara sekutunya di kawasan Teluk.
Dalam diskusi yang sama, pakar hukum internasional Dr Natalia Lengkong dan Stevan Voges turut memberikan penjelasan mengenai aspek hukum internasional dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Kegiatan ini dihadiri oleh komunitas Yahudi serta pengurus Koalisi Advokasi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan Sulawesi Utara, antara lain Pdt. Ruth Kezia, Dr. Denny Pinontoan, dan Rahman Mantu. Hadir pula sejumlah tamu undangan seperti Sofyan Jimmy Yosadi serta anggota koalisi yang berasal dari berbagai komunitas, di antaranya komunitas Baha’i, Laroma, Ahmadiyah, Gusdurian, PMII Minahasa dan Manado, serta HMI Manado.
Diskusi lintas iman tersebut berlangsung dalam suasana dialogis dan penuh keakraban, yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan buka puasa bersama sebagai simbol persaudaraan dan penghormatan terhadap keberagaman.
Melalui kegiatan ini, para peserta berharap dialog lintas iman dapat terus diperkuat sebagai sarana membangun pemahaman, toleransi, serta kontribusi masyarakat sipil dalam mendorong perdamaian di tingkat global maupun lokal. (P-bwl)