Begini penampakan mobil Model 3 Standard milik Tesla Motors dalam gambar selebaran yang dirilis oleh Tesla Motors pada tanggal 7 Oktober 2025 lalu. (‘Courtessy’ CNBC Indonesia via Reuters/Tesla Motors)PRIORITAS, 19/3/26 (Jakarta): Akibat perang Israel-Iran tak hanya memicu kekhawatiran global dan terjadi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), namun juga membuka peluang bagi industri tertentu.
Dilaporkan, salah satu yang ketiban cuan ialah bisnis kendaraan listrik, yakni di segmen mobil listrik bekas khususnya.
Sebagaimana dilansir Reuters dan dikutip CNBC Indonesia, di Inggris, seorang pelaku usaha bernama Martin Miller mencatat lonjakan penjualan signifikan di dealer mobil listrik bekas miliknya di barat daya London. Bahkan, hari Sabtu lalu, menjadi hari tersibuk sepanjang masa, hanya sepekan setelah konflik perang pecah pada 28 Februari 2026 lalu.
Ganggu jalur perminyakan
Diketahui, perang yang melibatkan Iran tersebut telah mengganggu jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global saat ini.
Sementara itu, Miller sendiri kini tengah berpacu untuk menambah stok kendaraan listriknya.
“Kami menjual mobil dengan sangat cepat. Staf kami telah membeli lebih banyak kendaraan listrik di lelang dengan gila-gilaan, karena kami yakin ini akan berlanjut,” ujarnya, demikian Reuters, Rabu (18/3/26) kemarin.
Harga bensin melonjak
Berdasarkan data pemerintah Inggris, per 16 Maret, harga rata-rata bensin per liter di Inggris melonjak tujuh persen sejak perang dimulai.
Lalu di Uni Eropa, harga bensin naik delapan persen.
Sedangkan harga rata-rata bensin di AS juga telah naik 27 persen sejak akhir Februari, hingga mencapai $3,72 per galon, sebuah angka yang jarang terjadi.
Sebabkan perubahan struktural kebiasaan belanja
Dalam sejarah, guncangan harga minyak dapat menyebabkan perubahan struktural dalam kebiasaan belanja mobil konsumen. Krisis energi tahun 1970-an menyebabkan pembeli mobil AS memilih kendaraan yang lebih kecil, yang menguntungkan produsen mobil Jepang dan mengikis pangsa pasar pesaing AS.
Sementara analis mengatakan, kenaikan tajam harga bahan bakar baru-baru ini kemungkinan tidak akan secara signifikan mengubah pola belanja mobil baru dalam waktu dekat ke depan.
Disebut pengamat industri, seringkali dibutuhkan periode harga yang tinggi secara berkelanjutan, atau harga yang melampaui tonggak psikologis tertentu sebelum pembeli mobil mengalihkan fokus mereka ke pilihan yang lebih hemat bahan bakar saja.
“Konsumen sangat reaktif terhadap harga bensin, tetapi cenderung harga harus mencapai angka bulat tertentu,” ujar Kevin Roberts, direktur intelijen ekonomi dan pasar di pasar online CarGurus kepada media.
“Ambang batas $4 (per galon) mungkin menjadi yang perlu diperhatikan,” tambahnya, dan mencatat, itu merupakan titik balik bagi minat terhadap kendaraan listrik selama guncangan minyak terakhir, pada tahun 2022, setelah Rusia menginvasi Ukraina tetangganya.
Seorang pelanggan di AS, Zach Xavier, tidak ingin menunggu. Dia mengunjungi Recharged, dealer kendaraan listrik bekas di Richmond, Virginia, bersama istrinya pada hari Jumat untuk menukar SUV bermesin pembakaran internal dengan SUV listrik, dan juga membeli kendaraan listrik kedua yang lebih kecil lagi.
“Saya mencoba untuk masuk sebelum semua orang panik,” katanya lagi.
Belum banyak berpengaruh di AS
Hingga kini, kenaikan harga tampaknya belum memengaruhi pembeli mobil baru di AS, menurut aktivitas di beberapa situs riset kendaraan. CarGurus mengatakan akhir pekan lalu, mereka belum melihat perubahan besar dalam pencarian EV ini.
Lalu situs lain, Edmunds, mengatakan, pangsa pembeli yang melihat kendaraan listrik pada minggu pertama setelah perang dimulai sedikit meningkat, menjadi 22,4 persen dari 20,7 persen pada minggu sebelumnya.
Lalu di pihak lain, peningkatan minat EV lebih mungkin terjadi di Eropa, di mana mobil listrik sepenuhnya menyumbang 19,5 persen dari penjualan tahun lalu, dan di mana keringanan pajak pemerintah untuk pembelian kendaraan listrik kembali diperkenalkan. (P-*r/jr)