

PRIORITAS, 8/5/2026 (Amerika Serikat/Washington): Wabah hantavirus di kapal pesiar internasional MV Hondius memicu perhatian otoritas kesehatan dunia setelah tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia dan sejumlah lainnya menjalani pemantauan medis di beberapa negara.
Kasus tersebut terjadi di atas MV Hondius yang berlayar dari Argentina sekitar satu bulan lalu dengan membawa penumpang dari berbagai negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat, Belanda, Afrika Selatan, Swiss, dan negara Eropa lainnya.
Dikutip Beritaprioritas dari BBC, tiga penumpang meninggal dunia baik saat berada di kapal maupun setelah turun dari pelayaran. Empat penumpang lainnya telah dievakuasi untuk menjalani perawatan medis.

Otoritas kesehatan internasional kini melakukan pelacakan kontak secara besar-besaran terhadap penumpang yang telah kembali ke negara masing-masing menggunakan penerbangan internasional.
Maria Van Kerkhove dari World Health Organization menegaskan wabah tersebut tidak dapat disamakan dengan pandemi Covid-19.
“Ini bukan Covid, ini bukan influenza, penyebarannya sangat berbeda,” ujar Van Kerkhove, dikutip Beritaprioritas dari BBC, Kamis (8/5/2026).
WHO mencatat terdapat delapan kasus yang teridentifikasi di kapal tersebut, terdiri dari tiga kasus terkonfirmasi dan lima kasus suspek.
Hingga kini, sumber awal wabah masih diselidiki. Hantavirus umumnya menyebar melalui tikus atau hewan pengerat, terutama lewat udara yang terkontaminasi urine, air liur, maupun kotoran hewan tersebut.
Kapal pesiar itu sebelumnya diketahui mengunjungi sejumlah wilayah terpencil dengan habitat satwa liar, sehingga kemungkinan paparan virus diduga terjadi sebelum atau selama perjalanan.
Pakar kesehatan menyebut strain Andes dari hantavirus memang memiliki kemampuan penularan antarmanusia dalam kontak sangat dekat dan berkepanjangan, berbeda dengan sebagian besar jenis hantavirus lainnya.
Situasi di kapal pesiar yang memiliki ruang terbatas, kabin bersama, dan area makan komunal dinilai meningkatkan risiko penularan antarpenghuni kapal.
Salah satu korban meninggal merupakan perempuan asal Netherlands yang turun di Pulau St Helena pada 24 April lalu. Ia diketahui berbagi kabin dengan suaminya yang lebih dahulu meninggal di atas kapal pada 11 April.
Meski demikian, otoritas kesehatan belum memastikan apakah kedua korban termasuk kasus hantavirus terkonfirmasi.
UK Health Security Agency menegaskan virus tersebut tidak menyebar melalui aktivitas sosial biasa seperti berjalan di ruang publik, tempat kerja, sekolah, maupun pusat perbelanjaan.
Gejala hantavirus biasanya muncul dalam dua hingga empat minggu setelah terpapar virus, meski dalam beberapa kasus dapat terjadi lebih lama. Gejala meliputi demam, nyeri otot, kelelahan, sesak napas, sakit perut, mual, muntah, hingga diare.
“Risiko bagi masyarakat umum tetap sangat rendah,” ujar Meera Chand, dikutip Beritaprioritas dari BBC.
Pihak kesehatan Inggris juga meminta penumpang asal Inggris yang kembali dari kapal tersebut untuk melakukan isolasi mandiri selama 45 hari sebagai langkah pencegahan.
Sementara itu, kapal MV Hondius saat ini berlayar menuju Canary Islands setelah sempat berlabuh selama tiga hari di dekat Cape Verde.
Operator kapal menyatakan seluruh penumpang dan kru yang masih berada di kapal saat ini tidak menunjukkan gejala infeksi. Kapal juga telah menjalani proses sterilisasi menyeluruh sebelum evakuasi lanjutan dilakukan (P-Gio R).

