Tonton Youtube BP

Sumpah Pemuda di Era Digital, Sebuah Refleksi: “Menyalakan Kembali Api yang Padam”

Wilson Lumi
28 Oct 2025 13:13
Opini 0
5 minutes reading

Oleh: Bernadus Wilson Lumi
Ketua Umum Forum Pimred Multimedia Indonesia

SETIAP 28 Oktober, bangsa ini selalu diajak menengok kembali ke masa 1928 — masa di mana sekelompok anak muda dari berbagai daerah, bahasa, dan latar sosial mengikrarkan satu semangat: bertanah air satu tanah air Indonesi, berbangsa satu bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia.

Namun, di tengah hingar-bingar zaman digital dan derasnya arus hiburan yang nyaris tanpa jeda, pertanyaan getir pun muncul: masihkah semangat Sumpah Pemuda hidup di dada generasi hari ini, atau hanya tinggal kutipan seremonial di panggung peringatan?

Kita memang hidup di zaman di mana kecepatan menggantikan ketekunan. Budaya instan membuat banyak anak muda ingin hasil tanpa proses, pengakuan tanpa perjuangan. Mereka tahu tokoh besar seperti Soekarno, Hatta, atau Sutan Syahrir — tapi hanya sebatas nama dalam buku sejarah, bukan inspirasi dalam tindakan. Padahal, di pundak generasi muda masa kini, harapan bangsa tetap bertumpu.

Sumpah Pemuda 1928 bukan hanya tentang tiga kalimat sederhana, yang disebutkan diatas. Ia adalah simbol kesadaran kolektif, bahwa masa depan bangsa tidak akan lahir dari perpecahan dan kemalasan berpikir. Sumpah itu lahir dari pertemuan hati, bukan dari sekadar klik dan ’like’. Karena itu, peringatan Hari Sumpah Pemuda seharusnya tidak berhenti pada upacara atau unggahan bertagar #SumpahPemuda, melainkan menjadi momen refleksi — sejauh mana generasi muda hari ini masih setia pada cita-cita luhur itu?

Generasi muda kini, diakui hidup dalam pusaran ’cepat saji’; serba instan. ’Btw’, dunia digital memang membuka ruang luas untuk melakukan segala sesuatunya dengan cepat, tapi di sisi lain juga menghadirkan paradoks: banyak yang merasa merdeka, padahal terjebak dalam pencarian pengakuan tanpa henti.

Semua hal bisa diraih dengan sekali sentuh layar. Tak banyak lagi yang mau berjuang menempuh jalan panjang penuh peluh. Semangat perjuangan yang dulu menyala di dada para pemuda 1928, kini kian menipis, tergantikan oleh ambisi pribadi dan kepuasan sesaat.

Peran gawai sebenarnya tidak perlu disalahkan. Teknologi adalah alat, bukan lawan. Justru di era digital inilah, semangat Sumpah Pemuda bisa dihidupkan kembali dengan cara baru — melalui kolaborasi lintas daerah, solidaritas digital, dan gerakan kreatif yang memperkuat persatuan bangsa. Tantangan zaman boleh berubah, tapi nilai perjuangan tidak seharusnya luntur.

Dulu, pemuda berdebat di ruang gelap demi menyatukan tanah air. Kini, banyak anak muda lebih sibuk memperdebatkan jumlah pengikut di media sosial. Nilai perjuangan yang dulu diperjuangkan dengan darah dan air mata, perlahan bergeser menjadi sekadar simbol tanpa jiwa.

Di tengah gempuran teknologi dan budaya yang saya sebut ’cepat saji’ itu, semangat juang generasi muda kian memudar. Sumpah Pemuda yang dulu lahir dari semangat persatuan dan pengorbanan kini seakan hanya menjadi slogan tahunan—dirayakan dengan unggahan media sosial, tanpa makna yang benar-benar tertanam di hati.

Nasionalisme pun sering tereduksi menjadi simbol-simbol ringan: bendera merah putih di profil media sosial, tagar bertema kebangsaan, atau video penuh semangat yang viral sekejap lalu menguap begitu saja.

Kita sedang menyaksikan generasi yang lebih pandai membuat konten perjuangan daripada menjalani perjuangan itu sendiri. Kebanggaan instan!!!

Ironisnya, di tengah segala kebebasan yang dinikmati, banyak anak muda justru merasa hampa. Terjebak dalam khilaf narkoba, seks bebas, dan perlakuan tak terpuji sejenisnya. Kebebasan tanpa arah telah membuat banyak yang kehilangan makna tentang apa itu berjuang, bekerja, atau bahkan bermimpi.

Padahal para pemuda 1928 berjuang tanpa fasilitas, tanpa gawai, bahkan tanpa kemewahan pendidikan formal. Namun, mereka punya arah dan idealisme. Mereka tak sibuk membangun branding pribadi, tapi berjuang membangun bangsa.

Idealisme kini sering dianggap ketinggalan zaman, kejujuran terasa asing, dan integritas mudah digadaikan untuk popularitas. Inilah bentuk penjajahan baru — penjajahan mental oleh budaya konsumtif dan hedonis yang memudarkan semangat juang.

Meski demikian, tentu tak semua meredup. Meski hanya seberkas cahaya, masih banyak anak-anak muda yang berjuang sunyi: mereka yang mengajar anak-anak di pelosok, menanam pohon di lahan kritis, menciptakan inovasi sosial, atau membangun komunitas literasi tanpa pamrih.

Mereka tidak viral, tapi mereka nyata. Mereka inilah generasi penerus semangat Sumpah Pemuda yang sebenarnya — yang melawan kehampaan dengan kerja nyata, bukan wacana.

Menemukan kembali makna Sumpah itu

Sumpah Pemuda bukan hanya tonggak sejarah, tapi kompas moral. Ia mengingatkan bahwa cinta tanah air tak berhenti pada simbol, melainkan diwujudkan lewat tanggung jawab dan kontribusi.

Di era modern ini, tantangan pemuda bukan lagi tentang mempersatukan bahasa atau daerah, tapi mempersatukan kesadaran dan arah agar bangsa ini tidak kehilangan jati dirinya di tengah arus globalisasi. Sebab, bangsa ini tidak akan runtuh oleh serangan dari luar, tetapi oleh kehampaan dari dalam — ketika pemudanya kehilangan rasa memiliki dan berhenti peduli.

Hari Sumpah Pemuda seharusnya tidak sekadar perayaan seremonial, tetapi momentum untuk menyalakan kembali api Sumpah itu di dada setiap anak bangsa.

Pemuda harus kembali menatap masa depan dengan idealisme, bukan sekadar pragmatisme. Harus berani berpikir kritis, berbuat nyata, dan menolak apatisme.

Kita tidak membutuhkan jutaan unggahan bertagar nasionalisme, cukup satu tindakan yang berdampak bagi sesama. Karena pada akhirnya, semangat Sumpah Pemuda bukan soal siapa yang paling lantang berteriak ’Indonesia’, tapi siapa yang paling setia menjaganya.

Dan, di tengah dunia yang semakin bising ini, mungkin tugas terbesar generasi muda adalah menemukan kembali makna sunyi dari perjuangan 1928— sebab dari kesunyian itulah, dulu, lahir sebuah sumpah yang mengguncang sejarah.

Marilah, disetiap tanggal 28 Oktober, saat bangsa ini kembali menunduk sejenak mengenang momentum bersejarah—Sumpah Pemuda 1928, kita pekikkan kembali sebuah ikrar yang sederhana dalam kata, nan agung dalam makna. Dari semangat itu, akan lahir satu kesadaran kolektif bahwa pemuda bukan hanya pewaris masa depan, tetapi penggerak arah bangsa.

Pemuda hari ini, diakui tumbuh di tengah gemuruh informasi dan banjir distraksi. Dunia digital yang seharusnya membuka cakrawala justru sering menjebak dalam ruang gema (echo chamber) yang sempit—tempat opini, gaya hidup, dan eksistensi berlomba-lomba untuk diakui. Akibatnya, banyak anak muda lebih sibuk mencari validasi ketimbang menumbuhkan nilai.

So, sekali lagi, ayolah di Hari Sumpah Pemuda ini kita bergerak maju untuk Indonesia. Temukan kembali semangat dan makna Sumpah itu. Kita tidak butuh perayaan megah atau tagar viral untuk mengingat Sumpah itu. Yang kita butuh hanyalah kejujuran untuk bertanya pada diri sendiri: masihkah kita punya api semangat Sumpah itu—atau tinggal debunya saja?*

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Video Viral

Terdaftar di Dewan Pers

x
x