

PRIORITAS, 31/12/25 (Jakarta): Pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan tetap menguat, namun dalam ruang yang sempit, pada sisa perdagangan akhir 2025. Pasar valuta asing dinilai kehilangan tenaga karena likuiditas menipis jelang tutup tahun.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp16.700–Rp16.770 per dolar AS. Dorongan utama datang dari faktor global, terutama risalah rapat bank sentral AS yang masih memberi sinyal peluang penurunan suku bunga pada 2026.
“Rupiah hari ini diperkirakan diperdagangkan menguat di kisaran Rp16.700–Rp16.770 dipengaruhi oleh faktor global di antaranya risalah hasil rapat the Fed periode December yang masih akan memberikan ruang penurunan bunga tahun depan,” ujar Rully di Jakarta, Rabu (31/12/25).
Dari sisi domestik, stabilitas rupiah masih ditopang kehadiran Bank Indonesia di pasar. Otoritas moneter diperkirakan tetap siaga melakukan intervensi untuk menahan volatilitas hingga penutupan perdagangan.

“Dari domestik, kemungkinan BI masih akan stand by di pasar untuk melakukan intervensi dan menjaga rupiah tetap kuat sampai akhir perdagangan,” katanya.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra menilai penguatan rupiah tidak akan agresif. Aktivitas pasar yang melambat membuat permintaan dolar ikut menyusut.
“Ini sudah di akhir tahun, kelihatannya tidak banyak pergerakan karena permintaan kemungkinan jauh berkurang. Potensi kisaran pergerakan ada di Rp16.700–Rp16.780 per dolar AS,” ujar Ariston.
Meski indeks dolar AS masih mendapat sokongan dari ketegangan geopolitik global, seperti konflik China–Taiwan dan Rusia–Ukraina, dampaknya ke rupiah dinilai terbatas karena volume transaksi rendah.
Pada pembukaan perdagangan Rabu, rupiah tercatat menguat 34 poin atau sekitar 0,20 persen ke posisi Rp16.737 per dolar AS, menegaskan tren penguatan yang cenderung tipis di tengah pasar akhir tahun yang sepi. (P-Khalied M)

