Presiden AS, Donald Trump (kanan) menyambut PM Israel, Benjamin Netanyahu, di Gedung Putih. Mereka membahas tuntutan AS ke Iran termasuk persiapan serangan militer jika perundingan dengan Iran gagal.(aviohayon-gpo)PRIORITAS, 12/2/26 (Washington): Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memberi isyarat militer AS tetap akan menyerang Iran, apabila kesepakatan tidak tercapai dalam perundingan kedua negara nanti.
Konsekwensi serangan militer terbaru AS ke Iran itu, disampaikan kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang melakukan pertemuan khusus sekitar tiga jam dengan Trump di Gedung Putih, Washington DC.
“Saya bersikeras agar negosiasi dengan Iran dilanjutkan untuk melihat apakah kesepakatan dapat tercapai atau tidak. Jika tidak, kita hanya perlu melihat apa hasilnya. Terakhir kali Iran memutuskan bahwa mereka lebih baik tidak membuat kesepakatan, dan mereka dihantam dengan ‘Midnight Hammer'”, kata Presiden Trump dalam akun pribadinya di Truth Social, seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Kamis (12/2/2026).
‘Midnight Hammer’ (palu tengah malam) adalah sandi serangan militer AS dengan pesawat pembom taktis B-2 ke Iran pada Juni 2025 lalu, yang menghantam situs-situs nuklir Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan.
Serangan Midnight Hammer itu berlanjut dengan perang 12 hari antara Iran dan Israel.
Dalam pertemuan dengan PM Israel, Presiden Trump mengaku mengajak untuk melihat dulu apakah kesepakatan dengan Iran dapat tercapai atau tidak.
“Jika bisa, saya memberi tahu Perdana Menteri bahwa itu akan menjadi prioritas. Jika tidak, kita hanya perlu melihat apa hasilnya”, ujarnya.
Pembunuhan demonstran
Ancaman serangan Trump ke Iran kembali mencuat ketika rezim Iran membunuh ribuan demonstran, yang melakukan aksi protes karena perekonomian mereka semakin sulit, pada 8-9 Januari 2026 lalu.
AS bahkan mengirim kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) dan sekitar 9 kapal penghancur berpeluru kendali ke perairan dekat Iran.
Pemerintah Iran melalui kontak rahasia memberi tahu AS mereka tidak akan melakukan pembunuhan lagi.
Presiden Trump akhirnya menahan serangan militer AS ke Iran akhir Januari 2026 lalu. Namun Trump memberi beberapa tuntutan berat kepada Iran, agar AS tidak menyerang Iran.
Tuntutan itu adalah penghentian termasuk pembongkaran semua proram nuklir Iran, pembatasan produksi rudal balistik jarak jauh, penghentian bantuan terhadap semua proksi teroris Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman dan militan pro Iran di Irak.
Trump berharap Iran setuju atas semua tuntutan tersebut sehingga benar-benar ada perdamaian di Timur Tengah.
“Mudah-mudahan kali ini mereka akan lebih masuk akal dan bertanggung jawab”, tegasnya.

Kapal induk AS, USS George HW Bush, yang membawa 75 pesawat tempur disiapkan menuju Timur Tengah menambah kekuatan armada untuk menyerang Iran.(usnavy)
Kapal induk tambahan
Media Jerusalem Post melaporkan, di tengah ketegangan ancaman perang terhadap Iran, Departemen Pertahanan AS, Pentagon, sudah menyiapkan satu kapal induk tambahan untuk memperkuat armada militer AS di Timur Tengah.
Persiapan tersebut dilakukan Pentagon, setelah ada pernyataan dari Presiden Trump untuk penambahan kapal induk sebagai persiapan menyerang Iran.
“Perintah untuk mengerahkan pasukan bisa dikeluarkan dalam hitungan jam,” ungkap salah satu pejabat AS kepada Wall Street Journal, meskipun belum ada arahan resmi dari Presiden Trump yang diberikan.
Menurut sejumlah pejabat AS, kemungkinan kapal induk tambahan yang akan dikirim ke Laut Arab dekat Iran itu, berasal dari Pantai Timur karena lebih cepat jarak tempuh ke Timur Tengah.
Kapal induk itu adalah USS George HW Bush (CVN-77), yang saat ini sedang melakukan latihan di lepas pantai Virginia.
Kapal induk Bush, dikenal sebagai Carrier Strike Group 10 (CSG-10). Kapal ini merupakan kekuatan angkatan laut besar dengan daya tembak luar biasa, yang cukup untuk menghancurkan wilayah musuh hingga berkeping-keping dalam beberapa jam.(P-Jeffry W)