Pihak gereja Katolik Sri Lanka sambut baik penangkapan jenderal dalang pengeboman Paskah

Jeffry Wuisan
Kamis, 26 Februari 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 26/2/26 (Kolombo): Pihak gereja Katolik Sri Lanka menyambut baik penangkapan seorang Mayor Jenderal (purn) mantan kepala intelijen negara itu, Suresh Sally, yang diduga kuat sebagai dalang pengeboman dua Gereja Katolik dan satu Protestan saat minggu Paskah 21 April 2019 lalu.

Sally ditangkap atas tuduhan konspirasi dan membantu serta bersekongkol dalam pengeboman yang menewaskan 279 orang, menurut seorang petugas investigasi.

Seorang informan mengklaim Sally mengatur dan mendanai para teroris jihadis lokal,  untuk melakukan serangan bom bunuh diri dengan maksud memengaruhi pemilihan presiden Sri Lanka tahun 2019.

Meski penangkapan baru terjadi setelah hampir 7 tahun peristiwa tragis itu berlalu, namun memberikan sedikit kelegaan di kalangan para keluarga korban, terutama komunitas minoritas Kristen di  Sri Lanka.

Pihak Gereja Katolik yang telah memimpin kampanye menuntut keadilan bagi semua korban pengeboman brutal tersebut, menyambut baik penangkapan itu sebagai tanda penyelidikan terus berlanjut.

“Yang kita butuhkan adalah kebenaran di balik serangan Paskah. Kami ingin melihat keadilan bagi semua korban,” kata juru bicara Gereja, Pastor Cyril Gamini Fernando kepada AFP, seperti dikutip Beritaprioritas.com dari France 24, hari Kamis (26/2/26)

Sebelumnya, pihak Gereja menuduh pemerintah Sri Lanka berturut-turut gagal mengidentifikasi dalang di balik pengeboman tersebut.

Penyidik ​​kriminal Sri Lanka mengatakan pensiunan Mayor Jenderal Suresh Sallay ditangkap pada subuh hari di pinggiran ibu kota, Kolombo.

Ini menjadi penangkapan paling penting di Sri Lanka dalam penyelidikan yang telah berlangsung lama.

“Dia telah berhubungan dengan orang-orang yang terlibat dalam serangan itu, bahkan baru-baru ini”, ungkap penyidik.

 

Tiga gereja dan hotel

Enam ledakan dahsyat secara beruntun dan kemudian dua ledakan lagi terjadi beberapa jam kemudian saat warga Kristen sedang beribadah di gereja pada Minggu Paskah.

Serangan bom tersebut terjadi di dua Gereja Katolik masing-masing Gereja Santo Anthony di ibukota Sri Lanka dan Santo Sebastien di Timur Kolombo, dan sebuah gereja Protestan evangelis di luar Kolombo,  serta menargetkan tiga hotel mewah di ibu kota Sri Lanka.

Ratusan umat sedang berdoa di dalam gereja tewas karena pembawa bom meledakkan diri di dalam ruang gereja yang sedang penuh.

Sedangkan sekitar 43 orang terbanyak turis asing termasuk Amerika Serikat,  tewas dalam ledakan bom di hotel-hotel.

Serangan-serangan itu dituduhkan kepada kelompok jihadis lokal.

Sallay menjadi kepala Badan Intelijen Negara (SIS) pada tahun 2019 setelah Gotabaya Rajapaksa menjadi presiden.

Penangkapan terhadap Sallay yang telah lama dinantikan itu, terjadi menjelang peringatan tujuh tahun pengeboman tersebut.

Stasiun televisi Inggris Channel 4 melaporkan pada tahun 2023,  Sallay terkait dengan para pelaku bom bunuh diri Islamis dan telah bertemu dengan mereka sebelum serangan dilakukan.

Seorang informan memberi tahu, Sallay telah mengizinkan serangan  tersebut terjadi dengan maksud untuk memengaruhi pemilihan presiden tahun itu agar menguntungkan Rajapaksa.

Dua hari setelah pengeboman, Rajapaksa mengumumkan pencalonannya dan kemudian memenangkan pemilihan November dengan kemenangan telak,  setelah ia berjanji untuk memberantas ekstremisme Islam.

 

Mendanai teroris

Seorang mantan anggota kelompok jihadis tersebut mengatakan kepada wartawan pada tahun 2019,  mereka awalnya didanai unit intelijen militer untuk menyebarkan ideologi fundamentalis di provinsi timur Sri Lanka yang multi etnis.

Sallay bekerja di unit intelijen yang mendanai kelompok jihadis. Pemerintah pada saat itu mengakui militer berada di balik kelompok radikal tersebut.

Meskipun para jihadis lokal dianggap bertanggung jawab, Sallay dituduh sebagai dalang serangan tersebut.

Investigasi lain mengkritik pihak berwenang Sri Lanka, karena gagal menindaklanjuti peringatan dari badan intelijen India yang menyebut akan terjadi teroris.

Selain menewaskan ratusan orang, pengeboman tersebut ikut melumpuhkan industri pariwisata yang menguntungkan di  Sri Lanka.

Pada tahun 2021, otoritas AS mendakwa tiga warga Sri Lanka karena mendukung serangan Paskah, di mana lima warga negara AS tewas.

Ketiga orang tersebut termasuk di antara 25 tersangka yang didakwa di Pengadilan Tinggi Sri Lanka.

Mahkamah Agung mendenda mantan presiden Sri Lanka, Maithripala Sirisena dan empat pejabat senior lebih dari $1,03 juta dalam kasus perdata,  karena kegagalan mereka mencegah serangan tersebut.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025