Suasana Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten, menjadi salah satu pintu keberangkatan jamaah umrah Indonesia ke Tanah Suci di tengah eskalasi konflik Iran-Amerika Serikat (AS) yang memicu pembatalan sejumlah penerbangan menuju Jeddah, Arab Saudi. (Coutesy: NurPhoto/Getty Images)Prasasti Center mendesak pemerintah tak menunggu situasi memburuk lebih jauh. Kesiapan skenario kebijakan dinilai mendesak di tengah ketidakpastian global.
“Sulit untuk memprediksi ketidakpastian global. Pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas harga, fiskal, dan kepercayaan pasar,” katanya.
Piter menegaskan kebijakan adaptif berbasis kalkulasi fiskal cermat menjadi kunci melewati periode gejolak ini. Keseimbangan antara menjaga daya beli masyarakat dan kesehatan anggaran negara tak boleh dikorbankan salah satunya.
“Keseimbangan antara menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan kesehatan fiskal menjadi kunci dalam memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga,” tandasnya.
Pemerintah pun bergerak. Kementerian Haji dan Umrah mengimbau calon jamaah umrah menunda keberangkatan ke Tanah Suci menyusul situasi keamanan di kawasan Timur Tengah semakin tidak menentu.
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan imbauan itu lahir dari prinsip kehati-hatian demi memastikan keselamatan warga negara.
Jamaah umrah Indonesia saat ini masih berada di Arab Saudi. Pemerintah meminta mereka beserta keluarga di Tanah Air tetap tenang dan tidak terpancing kepanikan.
Koordinasi intensif dijalankan pemerintah bersama otoritas Arab Saudi, maskapai penerbangan, dan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU). Seluruh pihak dimobilisasi memastikan jamaah terdampak penundaan kepulangan tertangani dengan baik.
Konflik Iran-AS bukan sekadar krisis geopolitik di negeri orang. Bagi Indonesia dengan jutaan calon jamaah umrah dan haji setiap tahun, ini adalah ujian ketahanan sektor ibadah sekaligus stabilitas ekonomi domestik. (P-Khalied M)