Sebuah jet tempur F-35C Lightning II dari skuadron 314 bersiap lepas landas dari dek kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, Selasa 17 Februari 2026 di laut Arab.(uss abraham lincoln)PRIORITAS, 18/2/26 (Washington): Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, semakin dekat perang besar dengan Iran, karena perundingan kedua soal nuklir di Jenewa, Swiss, dinilai belum cukup membawa hasil yang menggembirakan.
Operasi militer AS terhadap Iran kemungkinan akan menjadi perang skala besar, yang berlangsung selama berminggu-minggu.
Informasi yang diperoleh Beritaprioritas.com dari i24news mengutip Axios, hari Rabu (18/2/2026) menyebutkan para pejabat AS sudah mempersiapkan operasi militer skala besar terhadap Iran.
Laporan tersebut menyebutkan serangan apa pun kemungkinan akan berlangsung selama berminggu-minggu dan dapat melibatkan aksi gabungan AS-Israel.
Para penasihat Presiden Donald Trump sudah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghci, di Jenewa pada hari Selasa.
Kedua pihak mengatakan pembicaraan mengalami kemajuan, tetapi para pejabat AS mengatakan masih ada kesenjangan yang signifikan.
Wakil Presiden AS, JD Vance, mengatakan kepada Fox News, pembicaraan “berjalan dengan baik” dalam beberapa hal, tetapi mengatakan Iran belum mengakui garis merah presiden Donald Trump.
Wapres Vance menilai meskipun Trump menginginkan kesepakatan, ia bisa memutuskan diplomasi telah “mencapai titik akhirnya.”
“Kami sangat ingin, seperti yang telah dikatakan Presiden, untuk menyelesaikan masalah ini melalui dialog dan negosiasi diplomatik, tetapi Presiden memiliki semua opsi yang tersedia”, katanya.
Sudah muak
Media Jerusalem Post melaporkan, perang besar-besaran AS dan Iran kemungkinan ‘segera’ dimulai.
Semua tanda menunjukkan Presiden Trump akan mengambil tindakan tegas jika pembicaraan gagal.
Amerika Serikat lebih dekat dengan konflik militer dengan Iran daripada yang disadari sebagian besar warga AS.
“Konflik semacam itu kemungkinan akan melibatkan operasi yang lebih mirip perang daripada operasi satu hari di Venezuela, yang dilakukan bulan lalu”, demikian laporan tersebut mengutip “sumber” pejabat AS.
Meskipun beberapa sumber AS mengatakan AS mungkin membutuhkan lebih banyak waktu untuk bersiap, yang lain tidak setuju.
“Bos (Presiden Trump) sudah mulai muak. Beberapa orang di sekitarnya memperingatkan agar tidak berperang dengan Iran, tetapi saya pikir ada kemungkinan 90% kita akan melihat aksi militer dalam beberapa minggu ke depan,” kata seorang penasihat Trump kepada Axios.
Para pejabat AS mengklaim bahwa Iran memiliki waktu dua minggu untuk menyerahkan proposal terperinci.
Beberapa pihak membandingkannya dengan bulan Juni 2025, ketika Trump diberi waktu dua minggu untuk memutuskan.
Saat itu pilihannya antara melanjutkan pembicaraan dan tindakan militer terhadap Iran.
Tiga hari kemudian Trump setuju meluncurkan Operasi Midnight Hammer, yang menyerang sejumlah situs nuklir Iran.
33 kapal perang
Amerika Serikat juga terus meningkatkan kekuatan militernya di kawasan Timur Tengah sebagai persiapan menyerang Iran.
Peningkatan kekuatan militer AS di kawasan tersebut semakin masif.
Saat ini terdapat kapal induk USS Abraham Lincoln yang sudah hampir dua pekan berada di Laut Arab.
Kapal induk terbesar di Angkatan Laut AS, USS Gerald R. Ford, juga sedang dalam perjalanan ke Timur Tengah.
Total kini AS sudah menyiapkan 33 kapal perang termasuk 13 destroyer yang semuanya memiliki kapasitas membawa 600 lebih rudal jarak jauh Tomahawk.
Sejumlah kapal selam AS juga lalu lalang dan siaga di dalam laut mediterania dan laut Arab.
Selain itu ada ratusan jet tempur dan sistem pertahanan udara sudah ditempatkan di beberapa pangkalan AS di sejumlah negara yang berbatasan atau dekat dengan Iran.
Setidaknya menurut laporan ada 30 pesawat jet tempur siluman F-35 yang siaga di pangkalan Al-Udeid, Qatar dan pangkalan Muwwafaq Salti di Yordania.
Lebih dari 150 penerbangan kargo militer AS dilaporkan telah mengangkut senjata dan amunisi ke Timur Tengah, dengan puluhan jet tempur tambahan dikerahkan dalam 24 jam terakhir.
Yang menarik, terdapat lebih dari 10 jet tempur F-22 telah dikerahkan ke Timur Tengah. Terakhir kali pesawat itu tiba di kawasan tersebut beberapa hari sebelum Operasi Midnight Hammer ke Iran.
Para pengamat militer di AS menilai pengerahan armada tempur AS yang sangat banyak tersebut, membutuhkan biaya operasional besar.
Karena itu, sangat kecil kemungkinan AS akan membatalkan serangan terhadap Iran. Apalagi Presiden Trump sudah berjanji kepada para demonstran di Iran pada Januari 2026 lalu, ia akan mengirimkan bantuan militer.
Sebelum bantuan Trump tiba, lebih 3.500 demonstran telah tewas dibantai petugas keamanan Iran saat aksi protes 8-9 Januari 2026 lalu.
Bahkan media Iran International mengutip sumber-sumber petugas keamanan Iran menyebut angka sebenarnya demonstran yang tewas mencapai 36.000 orang. (P-Jeffry W)