Pernyataan itu disampaikan sebagai respons atas kekhawatiran para korban bencana yang tinggal di hunian sementara (huntara) di provinsi tersebut, setelah muncul kabar, mereka hanya dapat menempati fasilitas itu selama enam bulan.
Huntap mandiri miliki keunggulan
Ia menjelaskan, pembangunan hunian tetap (huntap) tengah berlangsung di sejumlah kabupaten dan kota yang terdampak bencana hidrometeorologi. Selain itu, ia menilai huntap mandiri memiliki keunggulan karena lokasinya berdekatan dengan tempat tinggal sebelumnya serta area usaha warga.
Berbeda dengan hunian tetap (huntap) terpusat yang membutuhkan lahan cukup luas untuk membangun sejumlah rumah bagi warga terdampak bencana.
“Jadi kalau ada tanah sendiri lebih bagus, bisa jadi tanah milik kaum atau milik sanak keluarga,” katanya.
Ia menjelaskan, hunian tetap (huntap) mandiri tidak hanya dirancang kokoh, tetapi juga tahan terhadap gempa, karena menggunakan bahan utama berupa sepablock atau Semen Padang Bata Interlock.
Ia menambahkan, pemerintah menyalurkan dana stimulus sebesar Rp60 juta untuk pembangunan huntap. Melalui bantuan tersebut, pihak lain juga dimungkinkan turut berkontribusi dalam proses pembangunan.
“Semen Padang kalau ada CSR (dana pertanggungan sosialnya) dapat membantu menambah pembangunan huntap,” imbuhnya, demikian informasi yang diterima dari Antara.
Sekretaris Utama menyampaikan, jumlah korban di Pariaman relatif tidak banyak dibandingkan kabupaten dan kota lain di provinsi yang terdampak bencana hidrometeorologi pada akhir tahun lalu, sehingga di sejumlah daerah lain dibangun hunian tetap (huntap) terpusat.
Ia juga mengungkapkan, pemerintah daerah mengalami kendala dalam menyediakan lahan untuk pembangunan huntap terpusat, karena kebutuhan lahannya cukup luas. (P-Zamir)