Pasukan terjun payung Amerika Serikat melakukan latihan di sebuah pangkalan baru-baru ini. AS akan mengirim pasukan ini untuk operasi serangan terbaru di Iran.(usarmy)PRIORITAS, 26/3/26 (Washington): Amerika Serikat (AS) diduga mengerahkan pasukan terjun payung dan brigade tim tempur untuk melakukan pendaratan awal di Iran, untuk melumpuhan serta menguasai sejumlah titik strategis dalam perang di Timur Tengah.
“Pentagon mengerahkan unsur-unsur dari divisi Lintas Udara ke-82 ke Timur Tengah bersama dengan Tim Tempur Brigade ke-1”, ungkap seorang pejabat Departemen Pertahanan AS (Pentagon), seperti dikutip Beritaprioritas.com hari Kamis (26/3/26).
Sejumlah elemen tempur tersebut akan berada di bawah Central Command (Centcom) atau Komando Pusat yang bertanggungjwab atas operasi perang di Timur Tengah terutama Iran.
“Karena alasan keamanan operasional, kami tidak dapat memberikan informasi tambahan saat ini,” ujar pejabat tersebut.
Fox News melaporkan, Divisi Lintas Udara ke-82 yang berbasis di North Carolina, dianggap sebagai salah satu unit tempur konvensional terbaik militer AS, dengan beberapa elemen selalu siap dikerahkan ke mana pun di dunia dalam waktu 18 jam.
Pasukan ini dilatih untuk terjun payung atau menggunakan helikopter ke area target dan merebutnya.
Dalam kasus Iran, mereka dapat memberi AS pilihan untuk merebut Pulau Kharg atau wilayah penting lainnya.
Sedangkan Brigade Tempur ke-1 atau 1st BCT, adalah bagian dari Divisi Gunung ke-10 yang berbasis di New York.
Pasukan ini dilengkapi sepenuhnya dengan berbagai persenjataan militer baik ringan mapun berat, untuk pertempuran berkelanjutan atau operasi “spektrum penuh” dalam istilah militer.
Unit elit darurat
Pengerahan Divisi Lintas Udara ke-82 dan Brigade Tempur ke-1 ini berlangsung saat Presiden As, Donald Trump, memperingatkan Iran untuk menempuh jalur diplomasi atau menghadapi kekuatan militer.
Inti dari pengerahan kekuatan ini dan dua kelompok siap tempur amfibi, sebuah langkah yang menurut para ahli ditujukan langsung pada kepentingan strategis Iran, seperti ladang minyak terbesar Pulau Kharg di Teluk Persia.
Jerusalem Post melaporkan mobilisasi sejumlah unit pasukan elit AS ke Timur Tengah, memberi sinyal jika diplomasi gagal, strategi penaklukan akan siap diaktifkan.
Divisi Lintas Udara ke-82, yang sering disebut sebagai “911” (pasukan elit darurat) Angkatan Darat AS, dikenal karena kemampuannya untuk berada di mana saja di dunia dalam waktu hanya hitungan jam.
Misi mereka adalah menyediakan pasukan yang mampu melakukan penetrasi cepat, untuk merebut lapangan terbang dan mempertahankan wilayah hingga bala bantuan besar tiba.
Divisi Lintas Udara ke-82, yang juga dijuluki divisi “All American”, telah membawa warisan yang membentang dari masa-masa kelam D-Day pada tahun 1944 hingga evakuasi Kabul, Afghanistan pada tahun 2021.
Mantan wakil kepala Komando Pusat AS (Centcom), Laksamana Madya (purnawirawan) Bob Harward, mengakui daya hancur unik divisi tersebut.
“Ini adalah pasukan tempur. Ini adalah divisi infanteri yang diterjunkan dari udara ke darat,” kata Harward.
Unit tempur ini, meski dalam jumlah besar dapat diterjunkan ke darat dengan sangat cepat.
“Mereka terjun payung ke dalam operasi, dan tidak ada yang benar-benar dapat menghentikan mereka untuk mendarat”, lanjutnya.

Marinir AS dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 (31st MEU), melakukan latihan menembak di atas kapal serbu amfibi kelas America USS Tripoli (LHA-7) saat perjalanan menuju Timur Tengah, sebagai persiapan tempur pendaratan di Iran .(usmarines)
Manuver pendaratan cepat
Mendukung operasi udara tersebut adalah kelompok serbu amfibi USS Boxer dan USS Tripoli, yang telah membawa ribuan Marinir dan sejumlah pesawat tempur siluman F-35.
Kapal induk mini ini dirancang khusus untuk manuver cepat pasukan dari kapal ke pantai, yang telah menjadi ciri khas proyeksi kekuatan Amerika selama beberapa dekade.
“Ini adalah kemampuan dan keahlian yang unik milik Amerika. Kami merancang kemampuan amfibi ini, karena tidak ada yang bisa menghentikan kami untuk mendarat di pantai dengan metode itu”, papar Harward.
Pengerahan pasukan ini terjadi ketika pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan langkah-langkah darurat militer, untuk mengamankan infrastruktur energi yang penting.
Pulau Kharg, pusat utama ekspor minyak Iran, telah disebut-sebut sebagai target potensial untuk “Rencana B” tersebut.
Menurut Harward, letak geografis pulau dan wilayah tersebut menguntungkan pasukan AS.
Meskipun ada risiko yang terkait dengan situasi pengerahan pasukan darat, tetapi yang membuat Pulau Kharg ini lebih mudah dan menguntungkan adalah karena luasnya kecil.
Militer AS dapat mengamati semuanya di pulau itu, mengetahui ancaman apa yang akan dihadapi pasukan AS ketika mendarat.
Harward menjelaskan kemampuan untuk mengisolasi target seperti itu secara signifikan mengurangi bahaya yang biasanya terkait dengan invasi darat. “Ada banyak cara untuk meminimalkan risiko merebut pulau itu,” tambahnya.
Logistik operasi semacam itu akan melibatkan berbagai lapisan pasukan yang bekerja sama.
Biasanya militer AS akan mengirimkan kendaraan yang mengapung dan melaju dari kapal untuk membangun pijakan.
“Mungkin ada pasukan SEAL yang berangkat terlebih dahulu untuk mensurvei pantai, menentukan tempat pendaratan terbaik, dan kemudian membawa pasukan tersebut ke darat dari kapal”, jelasnya.
Dia menilai, pergerakan pasukan AS ini menunjukkan pengerahan militer bukan lagi sekadar latihan teoretis. Jika diaktifkan, ini akan menandai operasi darat AS pertama yang signifikan untuk penaklukan wilayah dalam lebih dari dua dekade. (P-Jeffry W)