Ilustrasi pencari kerja.(Dok/kompas.com)PRIORITAS, 8/1/26 (Jakarta): Tampaknya pasar tenaga masih suram hingga beberapa waktu mendatang. Badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang ditakutkan banyak orang masih akan berlanjut pada 2026, bahkan hingga 2030, menurut proyeksi Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF).
Pendorong utama badai PHK ini adalah masifnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan ketidakpastian ekonomi.
Sebagaimana survei terbaru WEEF mencatat, 41 persen perusahaan di seluruh dunia mengaku berencana melakukan pengurangan karyawan secara signifikan hingga 2030. Ini terjadi seiring banyaknya pekerjaan yang bisa digantikan oleh robot.
Bahkan WEF dalam laporan Future of Jobs Report, seperti dilansir dari CNBC Indonesia mengungkapkan, ratusan perusahaan besar yang disurvei menyatakan strategi mereka menghadapi disrupsi teknologi.
Latih ulang
Ratusan perusahaan besar yang disurvei di seluruh dunia, 77 persen menyatakan berencana melatih ulang dan meningkatkan keterampilan pekerja yang ada pada 2025-2030 agar dapat bekerja lebih baik bersama AI.
“Perkembangan AI dan energi terbarukan tengah membentuk ulang pasar tenaga kerja, mendorong meningkatnya permintaan untuk banyak peran teknologi atau spesialis, sekaligus menurunkan kebutuhan untuk pekerjaan lain, seperti desainer grafis,” ungkap WEF.
Menurut Managing Director WEF Saadia Zahidi, peran AI generatif dalam membentuk ulang industri dan tugas di semua sektor. Teknologi ini dapat menciptakan teks, gambar, dan konten orisinal lainnya sebagai respons atas perintah dari pengguna.
Dikatakannya, pekerjaan seperti petugas layanan pos, sekretaris eksekutif, dan petugas penggajian diperkirakan akan mengalami penurunan tercepat dalam beberapa tahun mendatang, baik karena penyebaran AI maupun faktor lain.
“Masuknya desainer grafis dan sekretaris hukum ke daftar sepuluh besar pekerjaan yang paling cepat menurun untuk pertama kalinya dalam sejarah laporan Future of Jobs mungkin menggambarkan meningkatnya kapasitas GenAI dalam mengerjakan pekerjaan berbasis pengetahuan,” ungkap laporan itu.
Sementara itu, keterampilan AI semakin dicari dengan data hampir 70 persen perusahaan berencana merekrut pekerja baru dengan kemampuan merancang alat dan pengembangan AI. Sementara itu 62 persen berniat menambah pekerja dengan keterampilan bekerja berdampingan dengan AI, menurut survei terbaru yang dilakukan tahun lalu.
Namun demikian, laporan tersebut juga memberi nada optimistis. Dampak utama teknologi seperti AI generatif terhadap pekerjaan mungkin terletak pada potensinya dalam meningkatkan keterampilan manusia melalui kolaborasi manusia-mesin, bukan semata-mata menggantikan pekerja, terutama mengingat pentingnya keterampilan yang berpusat pada manusia.
Namun pada kenyataannya, banyak pekerja sudah tergantikan oleh AI. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan teknologi, termasuk layanan penyimpanan file Dropbox dan aplikasi belajar bahasa Duolingo, menyebut AI sebagai alasan pemutusan hubungan kerja (PHK). (P-*r/am)