Warga Palestina berjalan di tengah puing-puing bangunan di Jalur Gaza yang hancur akibat perang dua tahun militan Hamas dan Israel. (qudsn)PRIORITAS, 29/10/25 (Tel Aviv): Negara-negara Teluk ragu-ragu mendanai rekonstruksi Jalur Gaza sebesar 70 miliar dolar atau sekitar Rp.1120 triliun, tanpa jaminan perang tidak akan berkobar lagi di wilayah tersebut.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menekan negara-negara Teluk untuk membiayai rekonstruksi Gaza, tetapi Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UAE) enggan mengeluarkan dana, tanpa jaminan politik dan keamanan.
Menurut informasi yang diperoleh Beritaprioritas.com, hari Rabu (29/10/25), para pejabat negara Teluk tersebut telah menegaskan mereka menginginkan kejelasan tentang pemerintahan masa depan di Jalur Gaza, dan jaminan konflik tidak akan berlanjut sebelum mengucurkan miliaran dolar bantuan.
Arab Saudi menghadapi kendala keuangan akibat turunnya harga minyak, sehingga mengurangi pendanaan luar negeri dalam skala besar.
Saudi berencana mengandalkan Qatar dan UAE untuk menanggung bagian yang lebih besar dari jumlah anggaran rekonstruksi sebesar $70 miliar.
Syarat pendanaan
Abu Dhabi mensyaratkan pendanaannya jika sudah terjadi pelucutan senjata penuh militan Hamas.
Mereka juga tidak ingin militan Hamas masuk dalam pemerintahan di Jalur Gaza, serta menuntut restrukturisasi Otoritas Palestina.
Sementara Qatar menuntut agar Israel terlebih dahulu melaksanakan bagian mereka dari kesepakatan gencatan senjata Trump, sebelum berjanji memberikan dana besar.
Perdebatan ini muncul saat penasihat Trump, Jared Kushner dan wakil Presiden AS, JD Vance, mendorong pembagian Jalur Gaza menjadi dua zona, dengan rekonstruksi dibatasi pada sisi yang dikendalikan Israel.
Para pejabat negara Teluk mengatakan mereka tidak akan berinvestasi besar-besaran di Jalur Gaza, kecuali mereka memiliki pengaruh atas proses rekonstruksi. Selain itu, harus ada jaminan serangan militan Hamas maupun Israel tidak akan dilanjutkan, lapor Bloomberg.
Membengkak
Sebelumnya penilaian komprehensif Bank Dunia, Uni Eropa dan PBB memperkirakan angka rekonstruksi selama dekade berikutnya sebesar $53,2 miliar (£40 miliar).
Laporan tersebut menyebutkan, sektor kesehatan membutuhkan $6,9 miliar, pertanian dan sistem pangan masing-masing membutuhkan $4,2 miliar, dan pendidikan membutuhkan sekitar $3,8 miliar untuk pemulihan.
Transportasi membutuhkan $2,9 miliar, dan pemulihan sektor Air, Sanitasi, dan Kebersihan (Cuci) membutuhkan $2,7 miliar.
Sejak itu, perkiraan biaya rekonstruksi telah membengkak menjadi sekitar $70 miliar (£52 miliar), menurut seorang pejabat Program Pembangunan PBB, Jaco Cilliers.
Sekitar 90 persen rumah dan bangunan di Jalur Gaza rusak atau hancur. Perekonomian Jalur Gaza juga hancur.
Sistem air dan sanitasi di Jalur Gaza telah runtuh. Pembangkit listrik telah hancur, dan lahan pertanian telah dihancurkan oleh pengeboman, penembakan, dan aktivitas kendaraan berat selama dua tahun terakhir.
Diperkirakan upaya untuk membangun kembali membutuhkan waktu selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.
Rencana 20 poin Trump untuk mengakhiri perang dan menata ulang Jalur Gaza kurang detail.
Namun, rencana tersebut memberikan beberapa petunjuk, untuk membangun kembali Jalur Gaza dengan bantuan panel pakar, yang telah melahirkan beberapa kota modern dan menakjubkan di Timur Tengah.(P-Jeffry W)
No Comments