Menguak kumpul kebo, dari gubernur hingga anggota dewan di Pulau Jawa

Khalied Malvino
Selasa, 9 September 2025
2 menit membaca

Praktik kumpul kebo dibiarkan

Raffles sendiri diketahui membiarkan praktik ini. Dalam masa kekuasaannya di Jawa (1811-1816), kumpul kebo jadi kebiasaan yang dianggap lumrah.

Praktik tersebut bahkan lebih jauh dipraktikkan Alexander Hare, kawan dekat Raffles. Dalam buku Raffles and the British Invasion of Java (2012), Tim Hannigan mencatat Hare menggunakan jabatan untuk mengeksploitasi perempuan dari berbagai wilayah sebagai “teman hidup.”

Fenomena itu bukan hanya milik elite. Pegawai, prajurit, hingga pedagang Eropa juga kerap memilih tinggal bersama perempuan lokal tanpa menikah resmi.

Masyarakat kala itu menyebutnya “kumpul Gerbouw.” Istilah ini berasal dari bahasa Belanda Gerbouw yang berarti bangunan atau rumah. Sebutan itu dipakai sebagai sindiran bagi mereka yang berbagi atap tanpa ikatan sah.

Dengan jejak panjang sejak masa kolonial, istilah kumpul kebo terus melekat dalam bahasa rakyat Indonesia hingga kini sebagai simbol hidup bersama tanpa ikatan nikah. (P-Khalied M)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025