Deretan gedung apartemen di Jakarta terlihat dari kejauhan, Kamis (7/3/24), seiring prediksi PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) bahwa hunian vertikal bakal mendominasi pilihan tempat tinggal warga urban Jabodetabek akibat keterbatasan lahan yang kian menyempit. (Courtesy:: AFP/Getty Images)PRIORITAS, 6/3/26 (Jakarta): Era rumah tapak terjangkau di pusat kota dinilai sudah hampir berakhir. PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) memprediksi rumah susun dan apartemen bakal menjadi pilihan hunian dominan di wilayah urban, khususnya Jabodetabek, seiring keterbatasan lahan yang kian terasa.
Direktur Bisnis SMF Heliantopo menyebut pergeseran dari rumah tapak ke hunian vertikal bukan fenomena asing. Kota-kota padat di Asia sudah lebih dulu melewati transisi serupa.
“Di kota-kota padat seperti Singapura, Hong Kong, bahkan Kuala Lumpur, masyarakatnya rata-rata tinggal di rumah susun atau apartemen,” ujarnya seperti dikutip Beritaprioritas, Jumat (6/3/26).
Keterbatasan lahan bukan satu-satunya pendorong. Kalkulasi efisiensi biaya hidup secara menyeluruh akan memaksa warga urban menimbang ulang pilihan hunian mereka.
“Nanti masyarakat akan membandingkan antara biaya transportasi, waktu, kelelahan, dengan kalau tinggal di apartemen yang lebih dekat tempat kerja. Itu mana yang lebih efisien,” katanya.
Heliantopo mengakui pergeseran ini tidak akan terjadi dalam semalam. Budaya masyarakat Indonesia yang lekat dengan rumah tapak menjadi faktor penghambat.
“Memang mungkin budayanya belum terbiasa tinggal di rumah susun. Tapi dengan keterbatasan lahan dan jarak rumah ke tempat kerja, pelan-pelan itu akan bergeser,” jelasnya.