Korban penembakan massal di pantai Australia bertambah jadi 15 orang tewas

Jeffry Wuisan
Senin, 15 Desember 2025
4 menit membaca

PRIORITAS, 15/12/25 (Sydney): Jumlah korban tewas akibat penembakan massal di pantai Bondy, Sydney, Australia bertambah menjadi 15 orang tewas dan 42 orang lainnya mengalami luka-luka serius. Seorang tersangka teror juga dilaporkan tewas ditembak aparat polisi.

Menurut laporan media Australia, seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Senin (15/12/25), 15 orang warga yang tewas belum semua teridentifikasi namanya.

Para korban yang sudah diketahui masing-masing adalah Matilda yang berusia sepuluh tahun, korban termuda dari serangan teror tersebut.

Kemudian ada Rabbi dan ayah dari lima anak, Eli Schlanger (41 tahun), serta warga negara Prancis Dan Elkayam (berusia 20-an).

Seorang penyintas Holocaust, Alex Kleytman, pengusaha Reuven Morrison dan mantan petugas polisi Peter Meagher termasuk di antara yang tewas.

Dua petugas polisi mengalami luka tembak ketika hendak membekuk tersangka. Keduanya dalam kondisi serius tetapi stabil.

Para korban pertama serangan di Pantai Bondi adalah Dan Elkayam, Eli Schlanger, Reuven Morrison, Matilda. (9news)

Pihak berwenang telah menyatakan serangan itu sebagai insiden terorisme.

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese dan Perdana Menteri New South Wales, Chris Minns, berjanji untuk memerangi antisemitisme di masyarakat.

Akan ada rapat kabinet nasional pukul 4 sore di mana Albanese berharap untuk memastikan keseragaman dalam undang-undang senjata api di seluruh pemerintahan federal, negara bagian, dan wilayah.

Para pemimpin Australia dan internasional terus mengutuk penembakan tersebut , termasuk Presiden AS Donald Trump.

Netanyahu sudah peringatkan

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali melancarkan kritik pribadi terhadap PM Australia, Anthony Albanese, terkait serangan mematikan di pantai Bondi itu.

Netanyahu, yang sebelumnya mengecam Albanese karena dukungan pemerintahannya terhadap negara Palestina, mengklaim telah memperingatkan pemimpin Australia itu ia sedang “menambah bahan bakar pada api anti-Semit”.

“Saya menyerukan kepada Anda untuk mengganti kelemahan dengan tindakan, dan sikap lunak dengan tekad,” kata Netanyahu dalam sebuah video yang diunggah di akun X resmi Perdana Menteri Israel.

Netanyahu juga mengatakan “memberi hormat” kepada “tokoh besar” yang menangkap salah satu teroris dan melucuti senjatanya.

Australia termasuk di antara beberapa negara yang secara resmi mengakui negara Palestina pada bulan September,  selama pertemuan para pemimpin dunia di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Australia telah gagal

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, juga mengkritik pemerintah Australia.

“Pemerintah Barat dihadapkan pada pilihan sederhana: memerangi antisemitisme atau menormalisasikannya,” kata Sa’ar.

“Pemerintah Australia telah gagal dalam ujian ini. Bahkan dibandingkan dengan negara-negara Barat, gelombang antisemitisme yang melandanya, baik di ruang virtual maupun di ranah publik, sangat besar. Tentu saja, bukan hanya pemerintah Australia yang gagal”, katanya.

Sa’ar mengatakan telah terjadi peningkatan tajam antisemitisme di Australia.

“Seruan-seruan seperti ‘Globalisasikan Intifada,’ ‘Dari Sungai ke Laut Palestina Akan Merdeka,’ dan ‘Matilah IDF’ bukanlah hal yang sah, bukan bagian dari kebebasan berbicara, dan pasti akan mengarah pada apa yang kita saksikan hari ini”, jelasnya.

Albanese tidak menanggapi langsung komentar Netanyahu ketika ditanya pada konferensi pers pagi ini.

“Ini adalah momen untuk persatuan nasional. Ini adalah momen bagi warga Australia untuk bersatu. Dan itulah yang akan kita lakukan”, kata Albanese.

Pemerintah Netanyahu mengatakan dorongan internasional untuk negara Palestina justru menguntungkan militan Hamas.

Sebuah keluarga berduka di North Bondi. (brisbanetimes)

Murni anti-Semit

Presiden AS, Donald Trump menyebut penembakan itu sebagai “serangan yang murni anti-Semit”.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan “antisemitisme tidak memiliki tempat di dunia ini”.

Raja Inggris, Charles III, mengatakan ia “terkejut dan sedih”. Austrlia adalah bagan dari Persemakmuran Inggris.

Kantor Presiden Israel, Isaac Herzog, pada hari Minggu mengatakan telah menghubungi raja pada bulan September, untuk memperingatkan tentang “epidemi antisemitisme” di tiga negara Persemakmuran: Inggris, Kanada, dan Australia.

Polisi di London mengatakan mereka akan meningkatkan keamanan di lokasi-lokasi Yahudi.

Jerman

Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan serangan itu membuat dirinya terdiam. “Ini adalah serangan terhadap nilai-nilai bersama kita”, ujarnya. “Kita harus menghentikan antisemitisme ini, di Jerman dan di seluruh dunia,” lanjutnya.

PBB Ngeri

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Antonio Guterres mengatakan merasa ngeri.

“Hati saya bersama komunitas Yahudi di seluruh dunia pada hari pertama Hanukkah ini, sebuah festival yang merayakan mukjizat perdamaian dan cahaya yang mengalahkan kegelapan”, katanya.

Perdana Menteri India, Narendra Modi, mengutuk peristiw di Bodi itu. Ia menyebut sebagai serangan teroris yang mengerikan. “Kami berdiri dalam solidaritas dengan rakyat Australia di saat duka ini”, ujarnya.

Tak perlu takut

Presiden Kongres Yahudi Sedunia, Ronald Lauder, mengatakan tidak ada komunitas yang perlu takut untuk berkumpul merayakan keyakinan, tradisi, atau identitasnya. “Jangan salah, ini tidak akan menghancurkan kita”, tegasnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan “terorisme dan pembunuhan orang, di mana pun terjadi, tidak dapat diterima dan harus dikutuk.”

Pada bulan Agustus, Australia memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran dan menuduh negara itu sebagai dalang serangan pembakaran anti-Semit di Sydney dan Melbourne.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025