Ilustrasi pengeboran lepas pantai yang menghasilkan minyak mentah. (Dok/Antara)PRIORITAS, 9/1/26 (Jakarta): Harga minyak mentah global kembali bergerak naik pada perdagangan Jumat (9/1/26). Penguatan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Venezuela dan Iran, yang menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan pasokan energi dunia.
Pada pukul 14.30 WIB, dua acuan utama minyak dunia tercatat menguat cukup tajam. Harga minyak Brent naik 83 sen atau 1,3 persen ke level US$62,82 per barel. Sementara itu, WTI (West Texas Intermediate) menguat 76 sen atau 1,3 persen menjadi US$58,52 per barel.
Secara mingguan, Brent diperkirakan mencatat kenaikan sebesar 2,7 persen, sedangkan WTI naik 1,4 persen. Capaian tersebut memperpanjang tren positif harga minyak yang telah berlangsung selama tiga pekan berturut-turut.
Lonjakan harga ini terutama dipicu pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim penguasaan atas sektor minyak Venezuela, menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada pekan sebelumnya.
Perusahaan berlomba amankan kontrak
Trump mendesak agar Amerika Serikat memperoleh akses penuh terhadap cadangan minyak Venezuela. Sejumlah perusahaan energi besar seperti Chevron, bersama pedagang komoditas global Vitol dan Trafigura, disebut tengah berlomba mengamankan kontrak dari pemerintah AS untuk mengekspor minyak mentah Venezuela. Sekitar 50 juta barel stok minyak milik PDVSA kini menjadi incaran berbagai pihak.
Di luar isu Venezuela, pelaku pasar juga mencermati dinamika di Timur Tengah dan Eropa Timur. Laporan pemadaman internet secara nasional di Iran, menyusul gelombang demonstrasi besar di Tehran, Mashhad, dan Isfahan akibat tekanan ekonomi, memicu kekhawatiran akan potensi terganggunya aktivitas produksi energi.
Di sisi lain, ancaman serangan terhadap infrastruktur ekspor minyak Rusia turut meningkatkan premi risiko di pasar energi global.
Kendati harga minyak sedang bergerak menguat, para analis tetap mewanti-wanti potensi kelebihan pasokan pada 2026 yang dapat menekan harga.
Lembaga riset Haitong Futures menilai, jika ketegangan di Iran tidak berkembang menjadi konflik yang lebih serius, penguatan harga minyak saat ini berpeluang terbatas dan sulit bertahan dalam jangka panjang. (P-Zamir)