Selat sempit Hormuz dari laut Arab menuju teluk Persia, dilaporkan diblokir Iran untuk arus keluar masuk kapal tanker minyak dunia. (x.@geopolitic prime)PRIORITAS, 1/3/26 (Jerusalem): Militer Iran memblokir Selat Hormuz yang menjadi jalur utama kapal-kapal tanker mengangkut minyak dari sejumlah negara teluk menuju ke segala penjuru dunia.
Penutupan selat yang menjadi jalur vital kapal tanker itu, dapat memicu kenaikan harga minyak dunia lebih dari 100 persen.
Penutupan Selat Hormuz itu menyusul pecah perang antara Iran dengan AS dan Israel, yang berujung tewasnya Pemimpin Tertinggi, Ayatolah Ali Khamenei serta 6 jenderal termasuk 40 komandan senior Iran.
Seperti dikutip Beritaprioritas.com dari sejumlah media di Timur Tengah, hari Minggu (1/3/26), sebuah gugus tugas keamanan maritim Eropa melaporkan Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC), telah menyatakan Selat Hormuz ditutup.
Middle East Spectator melaporkan penutupan Selat Hormuz diumumkan angkatan laut IRGC melalui siaran radio maritim.
“Ini adalah Angkatan Laut IRGC. Mulai sekarang, semua navigasi melalui Selat Hormuz dilarang. Tidak ada kapal, terlepas dari jenisnya, yang diizinkan untuk melewati Selat Hormuz sampai pemberitahuan selanjutnya”, demikian pernyataan IRGC.
Menurut Channel 12 Israel, IRGC juga memberi tahu semua kapal di area tersebut, transit melalui jalur air Hormuz tidak lagi diizinkan.
Langgar aturan internasional
Pemblokiran ini sebenarnya melanggar aturan internasional, karena Selat Hormus sebenarnya sepenuhnya bukan hanya milik Iran, tetapi terbagi dua dengan negara Uni Emirat Arab termasuk Oman.
Selat Hormuz memiliki lebar 33 kilometer di titik tersempitnya, sehingga jika mengikuti aturan, Iran hanya menguasai lebar 16,5 km sepanjang jalur tersebut.
Namun sejak rezim Iran dipimpin Ayatolah Khomeini hingga Ali Khamenei, aturan itu sering dilanggar dengan menutup selat itu untuk kepentingan militernya.
Berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tentang Hukum Laut, kapal menikmati hak lintas transit melalui selat internasional. Iran menandatangani perjanjian tersebut pada tahun 1982 tetapi tidak pernah meratifikasinya.
Bahkan tanpa penutupan formal, para analis mengatakan Iran sudah sangat mengganggu pelayaran melalui beberapa metode asimetris.
Ini termasuk gangguan kapal patroli cepat Iran, serangan rudal atau drone terhadap kapal tanker, ranjau laut, atau gangguan elektronik pada navigasi GPS kapal yang lewat di selat tersebut.
Perairan dangkal dan kedekatan dengan pantai Iran meningkatkan kerentanan kapal komersial yang melewati Selat Hormuz.
Konflik baru-baru ini telah menunjukkan risiko tersebut. Selama ketegangan Juni lalu, ribuan kapal melaporkan gangguan navigasi di dekat Hormuz karena diduga Iran sengaja sering mengarahkan pancaran radar pengganggu signal GPS.
Lonjakan harga minyak
Analis energi memperingatkan dampak pemblokiran Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak dunia.
Bloomberg telah menggambarkan penutupan beberapa hari sebagai “skenario mimpi buruk” bagi pasar energi global.
Analis minyak mentah Kpler, Muyu Xu, sebelumnya memperkirakan penutupan satu hari, dapat mendorong harga minyak ke kisaran $120–$150 per barel.
Kenaikan itu mencapai dua kali lipat atau seratus persen harga minyak mentah Brent, yang rata-rata sekitar $67 per barel sepanjang tahun 2026 ini.
Beberapa produsen minyak memiliki solusi alternatif sebagian, tetapi tidak ada yang dapat sepenuhnya menggantikan selat tersebut sebagai jalur vital.
Arab Saudi dapat mengalihkan sebagian ekspor minyaknya melalui pipa Timur-Baratnya ke Laut Merah, yang dapat mengangkut sekitar 5 juta barel per hari.
Uni Emirat Arab (UEA) juga mengoperasikan pipa Habshan-Fujairah dengan kapasitas sekitar 1,5 juta barel per hari.
Namun, data Administrasi Informasi Energi AS menunjukkan kapasitas pipa Saudi dan Emirat yang tidak terpakai hanya sekitar 2,6 juta barel per hari.
Ini jauh di bawah volume yang biasanya melewati Selat Hormuz, setiap hari sekitar 16,5 hingga 17 juta barel .
Negara-negara seperti Kuwait, Qatar, dan Bahrain hampir tidak memiliki jalur maritim alternatif. Irak juga sangat bergantung pada selat Hormuz untuk ekspor dari ladang minyak selatannya.
Cina bisa marah
Dampak penutupan Hormuz juga dapat juga menimpa Iran. Penutupan total akan memblokir ekspor minyak Iran sendiri.
Selain itu berisiko membuat marah China, yang diketahui sebagai pembeli terbesar minyak mentah Iran dan pendukung diplomatik utama.
Analis pasar mengatakan kepada Reuters, skala gangguan akan bergantung pada berapa lama konflik berlangsung.
Untuk saat ini, ancaman dan meningkatnya ketidakpastian telah mulai memengaruhi arus pengiriman minyak regional.
Jika krisis tidak mereda dengan cepat, para pedagang memperkirakan volatilitas yang tajam ketika pasar minyak global dibuka kembali, dengan Selat Hormuz sekali lagi menjadi pusat risiko geopolitik.(P-Jeffry W)