Tegas! Grace Natalie nyatakan video viral soal Jusuf Kalla bukan sikap PSI

Sem Muhaling
Kamis, 14 Mei 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 14/5/26 (Jakarta): Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia, Grace Natalie, akhirnya angkat bicara terkait polemik video ceramah Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla yang viral di media sosial dan berujung laporan polisi.


Grace menegaskan, unggahan video yang memicu kontroversi tersebut merupakan sikap dan tindakan pribadinya, bukan sikap resmi partai. Ia meminta publik tidak mengaitkan persoalan itu dengan PSI secara kelembagaan.

Pernyataan itu disampaikan Grace menyusul derasnya sorotan publik terhadap video yang menampilkan potongan ceramah JK di Universitas Gadjah Mada (UGM), yang kemudian menuai pro dan kontra di media sosial.

Grace Natalie: Jangan Seret PSI

Dalam keterangannya kepada media, Grace Natalie mengatakan sejak awal dirinya sudah meminta agar PSI tidak dibawa-bawa dalam polemik tersebut. Ia bahkan menginstruksikan jajaran partai agar tidak menjadikan persoalan itu sebagai isu organisasi.

Menurut Grace, video tersebut diunggah melalui akun media sosial pribadinya dan tidak pernah dimaksudkan sebagai pernyataan resmi partai.


“Ini sikap pribadi, bukan sikap partai,” tegas Grace Natalie dalam keterangannya yang dikutip sejumlah media nasional.

Ia juga mengungkapkan telah berbicara langsung dengan pimpinan PSI agar partai tidak ikut terseret dalam persoalan hukum maupun polemik politik yang berkembang.

Baca juga: Nadiem Makarim dituntut 18 tahun penjara di kasus korupsi Chromebook

PSI ambil sikap: tidak terlibat secara kelembagaan

Sikap Grace Natalie kemudian diperkuat oleh pernyataan internal PSI yang menegaskan bahwa partai tidak memiliki keterkaitan institusional dengan unggahan tersebut.

PSI disebut memilih menjaga jarak dari polemik yang kini telah masuk ranah hukum. Partai menilai apa yang dilakukan Grace merupakan tindakan personal sebagai individu, bukan sebagai representasi organisasi.

Karena itu, apabila muncul konsekuensi hukum, maka proses tersebut akan dijalani secara pribadi tanpa membawa nama partai.

Meski demikian, PSI tetap memberikan dukungan moral sebagai sesama kader.

Berawal dari video ceramah JK

Polemik bermula setelah beredarnya video ceramah Jusuf Kalla di UGM yang kemudian dipotong dan diunggah ulang di media sosial. Potongan video tersebut memancing perdebatan tajam di ruang publik.

Beberapa pihak menilai unggahan itu berpotensi memicu kegaduhan dan dianggap menyerang tokoh nasional. Namun di sisi lain, ada pula yang melihatnya sebagai bagian dari kebebasan berpendapat di media sosial.

Situasi semakin memanas setelah sejumlah organisasi masyarakat Islam mengambil langkah hukum.

Dilaporkan ke Bareskrim Polri

Grace Natalie bersama politikus PSI Ade Armando dan pegiat media sosial Permadi Arya dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh aliansi puluhan organisasi masyarakat Islam.

Laporan tersebut berkaitan dengan dugaan penghasutan dan penyebaran informasi yang dinilai dapat menimbulkan keresahan publik.

Aliansi pelapor menilai unggahan video tersebut telah menimbulkan tafsir negatif terhadap Jusuf Kalla dan memicu polemik berkepanjangan di masyarakat.

Meski demikian, hingga kini proses hukum masih berada pada tahap awal dan belum ada penetapan tersangka.

Grace Natalie yakin tidak langgar hukum

Menanggapi laporan itu, Grace mengaku tetap tenang dan optimistis bahwa unggahannya tidak melanggar hukum.

Ia menilai apa yang dilakukan masih berada dalam koridor kebebasan berpendapat sebagai warga negara. Karena itu, ia siap menghadapi proses hukum apabila memang diperlukan.

Grace juga menegaskan dirinya tidak memiliki persoalan pribadi dengan Jusuf Kalla.

Bahkan, ia membuka peluang untuk berdialog langsung dengan JK apabila ada kesempatan. Menurutnya, komunikasi secara langsung dapat membantu meluruskan berbagai kesalahpahaman yang berkembang di tengah masyarakat.

Sorotan Publik dan Dinamika Politik

Kasus ini pun menjadi perhatian luas karena menyeret nama sejumlah figur politik dan tokoh nasional. Polemik tersebut dinilai menunjukkan bagaimana media sosial kini semakin berpengaruh dalam membentuk opini publik dan dinamika politik nasional.

Di sisi lain, kasus ini juga memperlihatkan sensitifnya isu-isu yang berkaitan dengan tokoh nasional, terlebih ketika dikaitkan dengan potongan video dan narasi yang berkembang cepat di ruang digital.

Sejumlah pengamat menilai polemik tersebut dapat menjadi pelajaran bagi para tokoh publik untuk lebih berhati-hati dalam menyebarkan maupun mengomentari potongan video yang berpotensi menimbulkan multitafsir.

Sementara itu, publik kini menunggu perkembangan proses hukum serta respons lanjutan dari berbagai pihak terkait polemik video ceramah Jusuf Kalla yang masih terus menjadi perbincangan di media sosial dan ruang publik nasional.(P-sm)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan