PRIORITAS, 11/8/26 (Labuan Bajo): Festival Golo Koe 2026 kembali mengguncang Labuan Bajo. Bukan sekadar perayaan budaya dan keagamaan, festival ini kini menjadi salah satu kekuatan baru untuk mendorong pariwisata berkelanjutan di destinasi super prioritas tersebut.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan Festival Golo Koe mampu mempertemukan iman, tradisi, budaya, dan kehidupan masyarakat Manggarai dalam satu ruang yang terbuka bagi wisatawan.
Menteri Widiyanti menyampaikan hal itu saat membuka Festival Golo Koe 2026 di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Menurutnya, festival tersebut menjawab tantangan besar Labuan Bajo. Destinasi wisata kelas dunia itu harus terus berkembang tanpa kehilangan nilai budaya yang menjadi akar kehidupan masyarakat setempat.
Bukan Sekadar Festival, Warga Jadi Bintang Utama
Widiyanti menilai kekuatan Festival Golo Koe terletak pada keterlibatan langsung masyarakat. Sebab, warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut memperkenalkan identitas Manggarai kepada wisatawan.
Wisatawan dapat menikmati Labuan Bajo secara lebih utuh melalui pengalaman budaya yang lahir dari kehidupan masyarakat setempat.
“Wisatawan hadir untuk experience Labuan Bajo secara lebih utuh, sementara masyarakat tetap menjadi pelaku utama yang menentukan bagaimana identitasnya diperkenalkan kepada dunia,” kata Widiyanti.
Konsep tersebut membuat Festival Golo Koe tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Festival berkembang menjadi ruang perjumpaan antara wisatawan, budaya lokal, pelaku UMKM, seniman, dan masyarakat.
45 Ribu Wisatawan, Rp2,82 Miliar Berputar
Dampak Festival Golo Koe terhadap pariwisata dan ekonomi lokal juga bukan angka kecil. Pada penyelenggaraan 2025, festival tersebut menarik lebih dari 45.000 wisatawan. Kegiatan itu juga melibatkan 173 UMKM, 883 pekerja seni, dan 1.473 tenaga kerja.
Perputaran ekonomi yang tercipta mencapai sekitar Rp2,82 miliar. Angka tersebut menunjukkan festival budaya dapat memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Wisatawan mendapatkan pengalaman, sementara masyarakat memperoleh peluang ekonomi dari aktivitas pariwisata.
“Inilah pariwisata berkualitas, ketika pengalaman wisatawan tumbuh bersama manfaat ekonomi dan keberlanjutan kehidupan lokal,” ujar Widiyanti.
Sudah Masuk Jajaran Event Unggulan Nasional
Melansir Antara News, Festival Golo Koe kini mendapat pengakuan sebagai salah satu event unggulan nasional. Pemerintah melihat perkembangan tersebut sejalan dengan semakin luasnya manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Widiyanti mengapresiasi Keuskupan Labuan Bajo, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, serta seluruh pihak yang berperan dalam membesarkan festival tersebut. Ia berharap Festival Golo Koe terus menjadi bagian dari perjalanan Labuan Bajo menuju destinasi pariwisata kelas dunia. Namun, perkembangan itu harus tetap berjalan bersama masyarakat dan tidak boleh memutus hubungan dengan akar budaya Manggarai.
Labuan Bajo Tak Boleh Kehilangan Jati Diri
Festival Golo Koe membawa pesan penting bagi masa depan pariwisata Labuan Bajo. Pertumbuhan jumlah wisatawan tidak cukup jika masyarakat lokal justru kehilangan ruang untuk menjaga identitas budayanya. Karena itu, pengembangan pariwisata perlu berjalan beriringan dengan pelestarian tradisi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Festival Golo Koe 2026 pun diharapkan menjadi contoh bahwa pariwisata berkualitas bukan hanya soal mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya. Lebih dari itu, pariwisata harus mampu membuat budaya tetap hidup, masyarakat ikut tumbuh, dan ekonomi lokal terus bergerak. (P-sm)