Falsafah ‘Mapalus’ Minahasa menggema di Sidang Tahunan MPR: Cerminkan gotong royong, etika kerja bersama, kemandirian, kemitraan setara, kesetiakawanan

Hosana Rawis
Senin, 17 Agustus 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 17/8/26): Ketika menyinggung upaya memperkokoh persatuan bangsa pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/26) lalu, Ketua DPD RI Sultan B Najamudin  mengangkat falsafah ‘Mapalus’ dari Tanah Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut) yang menurut dia, mencerminkan gotong royong dan etika kerja bersama dengan menyatukan daya, waktu, serta pikiran demi kepentingan bersama.

Bahkan Sultan Najamudin, menilai, nilai Mapalus Minahasa menunjukkan kemandirian dapat tumbuh dari kemitraan yang setara dan kesetiakawanan yang melampaui sekat sosial.

“Di atas perbedaan ada Merah Putih. Di atas semua kepentingan ada Republik. Di atas setiap kekuasaan ada Kedaulatan Rakyat,” tandas Sultan.

Rakyat tidak pernah berhenti mencintai negeri

Dalam Sidang Tahunan MPR yang intinya mendengarkan pidato Presiden itu, Sultan mengatakan Indonesia tetap berdiri tegak menghadapi berbagai konflik, krisis, dan ujian sejarah karena rakyat tidak pernah berhenti mencintai negeri.

“Namun, Indonesia tetap berdiri tegak, karena rakyatnya tidak pernah berhenti mencintai negeri ini,” kata Sultan lagi.

Ia mengatakan, berbagai ujian telah dihadapi bangsa Indonesia, mulai dari krisis ekonomi, bencana alam, pandemi, gejolak politik, hingga berbagai peristiwa dalam perjalanan sejarah.

Delanjutnya, menurut dia, kecintaan terhadap Indonesia juga tercermin dari masyarakat di daerah yang tetap menjalankan peran masing-masing dalam berbagai kondisi.

Lalu ia mencontohkan guru yang tetap mengajar meski fasilitas ruang kelas terbatas, bidan yang tetap melayani meski harus menempuh perjalanan jauh, serta petani dan nelayan yang terus bekerja menghadapi kondisi alam yang tidak menentu.

“Ada aparatur desa tetap melayani di pelosok negeri. Dan ibu-ibu tetap menjaga masa depan anak-anaknya meski hidup tidak selalu mudah,” tuturnya.

Juga Sultan mengatakan kecintaan terhadap Indonesia juga tercermin dari kehadiran putra-putri terbaik bangsa dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026.

Terdapat 225 teladan dan 12 peserta Parlemen Remaja dari berbagai kementerian dan lembaga hadir dalam agenda tahunan tersebut.

Perkuat persatuan kesatuan, modal terbesar bangsa

Sultan dalam pidatonya juga mengatakan, ujian terhadap demokrasi Indonesia semakin menantang, tetapi membutuhkan keberanian, persatuan, kepercayaan, dan keteladanan.

Keberanian diperlukan untuk menghadapi tantangan, persatuan untuk menyatukan langkah di tengah perbedaan, kepercayaan rakyat terhadap parlemen dan pemerintah, serta keteladanan dari para pemimpin dan penyelenggara negara.

“Dari ruang sidang bersama yang terhormat ini, DPD RI mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat persatuan dan kesatuan, sebagai modal terbesar bangsa kita,” katanya mantap.

Pitutur Jawa

Selanjutnya, demikian Antara, Sultan juga mengingatkan bahwa perbedaan pandangan politik dan pendekatan kebijakan merupakan bagian dari demokrasi. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menghilangkan kecintaan terhadap Indonesia.

“Pitutur Jawa mengingatkan, ‘rukun agawe santoso, crah agawe bubrah’. Kerukunan melahirkan kekuatan, perpecahan membawa kehancuran. Karena itu, berbeda pilihan tidak boleh memutus persaudaraan, berbeda pandangan tidak boleh melemahkan tujuan kebangsaan,” demikian Ketua DPD RI Sultan B Najamudin meyakinkan. (P-*/mj)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025