Ekonomi Indonesia 2025 tetap tangguh, pertumbuhan terjaga dan kesejahteraan membaik

Johanes Christiaan
Rabu, 31 Desember 2025
4 menit membaca

PRIORITAS, 31/12/2025 (Jakarta): Pemerintah menutup tahun 2025 dengan kinerja perekonomian nasional yang tetap terjaga dan resilien di tengah dinamika global yang penuh tantangan. Tekanan geopolitik, volatilitas pasar keuangan, serta perlambatan ekonomi global dinilai tidak menghambat Indonesia dalam menjaga stabilitas dan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memaparkan kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang dinilai tetap solid. Pertumbuhan ekonomi nasional terjaga di kisaran 5 persen, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan III 2025 tercatat tumbuh 5,04 persen (year on year).

“Sepanjang tahun 2025, Pemerintah secara konsisten menjaga stabilitas ekonomi nasional, salah satunya melalui penguatan koordinasi kebijakan lintas kementerian dan lembaga, sehingga perekonomian Indonesia tetap tumbuh solid di tengah tantangan global,” ujar Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto dalam keterangannya diterima di Jakarta, Rabu (31/12/25).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 terjaga di kisaran 5% dengan capaian pada kuartal III-2025 sebesar 5,04% (yoy). Dari sisi skala ekonomi, PDB nominal Indonesia pada tahun 2024 mencapai USD1.396,30 miliar.

Sementara itu, PDB berdasarkan paritas daya beli (PPP) tercatat sebesar USD4,10 triliun, menempatkan Indonesia sebagai ekonomi terbesar ke-8 dunia. PDB per kapita Indonesia juga terus meningkat dan mencapai Rp78,62 juta atau setara USD4.960,33.

Stabilitas makroekonomi Indonesia tetap terjaga dengan baik. Inflasi terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1% dan tercatat sebesar 2,72% (yoy) pada November 2025. Di pasar keuangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menguat dan berada di level 8.644,26 pada 29 Desember 2025. Nilai tukar rupiah juga relatif stabil di kisaran Rp16.785 per dolar AS pada Desember 2025.

Indikator ekonomi makro

Lebih lanjut, cadangan devisa Indonesia tetap tinggi dan mencapai USD150,1 miliar pada November 2025. Kinerja indikator sektor riil juga menunjukkan penguatan yang konsisten, terscermin dari PMI Manufaktur Indonesia yang terus berada pada fase ekspansi dan mencapai level 53,3 pada November 2025.

Optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga, sebagaimana tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang berada pada level optimis sebesar 124,0 pada November 2025, serta Indeks Penjualan Riil yang terus tumbuh positif dengan perkiraan pertumbuhan sebesar 5,9% (yoy) pada November 2025.

Kinerja eksternal perekonomian Indonesia juga menunjukkan ketahanan yang kuat. Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus selama 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, dengan nilai surplus mencapai USD35,88 miliar pada periode Januari hingga Oktober 2025.

Di sisi investasi, realisasi investasi pada periode Januari–September 2025 mencapai Rp1.434,3 triliun atau tumbuh sebesar 13,7% (yoy). Penyaluran kredit perbankan tetap tumbuh positif sebesar 7,36% (yoy) pada Oktober 2025, mencerminkan keberlanjutan dukungan sektor keuangan terhadap aktivitas ekonomi nasional.

Dari sisi kualitas pertumbuhan, berbagai indikator kesejahteraan masyarakat menunjukkan perbaikan yang nyata. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja naik menjadi 70,59% pada Agustus 2025, mencerminkan meningkatnya keterlibatan penduduk usia kerja dalam kegiatan ekonomi.

Penciptaan lapangan kerja didukung melalui penguatan sektor riil dan berbagai program pembiayaan, antara lain penyaluran Kredit Program seperti KUR, Kredit Alsintan, KIPK, dan Kredit Perumahan, serta pelaksanaan Program Padat Karya Tunai dan program magang bagi lulusan perguruan tinggi.

Seiring dengan itu, Tingkat Pengangguran Terbuka terus menurun dan tercatat sebesar 4,85 persen. Perbaikan kesejahteraan masyarakat juga terlihat dari menurunnya tingkat kemiskinan nasional, tercatat sebesar 8,47% pada Maret 2025. Tingkat kemiskinan ekstrem turut menurun menjadi 0,85% pada periode yang sama, menandakan percepatan penurunan kemiskinan ekstrem yang semakin mendekati nol. Rasio gini juga menunjukkan tren penurunan dan berada di level 0,375 yang mencerminkan perbaikan pemerataan pendapatan.

Program stimulus dan paket ekonomi

Sebagai langkah antisipatif dan responsif terhadap dinamika ekonomi, Pemerintah terus mengoordinasikan berbagai stimulus dan paket kebijakan ekonomi. Kebijakan tersebut mencakup Bantuan Pangan dan Bantuan Kartu Sembako tambahan, Bantuan Subsidi Upah, hingga BLTS Kesra.

Pemerintah juga memberikan stimulus mobilitas masyarakat melalui diskon transportasi, dukungan bagi industri padat karya, pemberian insentif fiskal bagi pekerja dan UMKM, serta percepatan deregulasi dan debottlenecking melalui penyederhanaan regulasi dan integrasi perizinan lintas Kementerian/Lembaga ke dalam sistem OSS.

“Ke depan, Pemerintah akan terus memperkuat koordinasi kebijakan perekonomian nasional, memastikan sinergi lintas sektor berjalan efektif, serta menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi yang stabil, inklusif, dan berdaya saing. Pemerintah berkomitmen agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat,” pungkas Jubir Haryo

Kinerja ini menegaskan ketahanan ekonomi nasional sekaligus menjadi fondasi bagi pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan ke depan. (P-fr/bwl)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025