Ekonom ingatkan ancaman pendapatan riil dan kerja tak berkualitas

Khalied Malvino
Minggu, 8 Februari 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 8/2/26 (Jakarta): Pertumbuhan ekonomi nasional masih bertumpu pada konsumsi rumah tangga, tetapi fondasinya kian rapuh karena pendapatan riil yang tak merata dan serapan kerja yang melambat, kondisi yang membuat masyarakat memilih menahan belanja demi bertahan.

Senior Analyst NEXT Indonesia Center Sandy Pramuji menilai tantangan daya beli saat ini bukan lagi soal ada atau tidaknya konsumsi, melainkan soal pendapatan yang sulit mengejar biaya hidup serta terbatasnya lapangan kerja berkualitas.

Ia menjelaskan, tekanan tersebut membuat rumah tangga bersikap lebih hati-hati, meski konsumsi secara agregat masih tumbuh. Dalam pandangannya, tanpa perbaikan pada dua fondasi utama itu, kehati-hatian belanja berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi ke depan.

“Tanpa penguatan fondasi pendapatan riil dan penciptaan kerja berkualitas, masyarakat akan makin selektif membelanjakan uangnya, dan ini bisa menekan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi,” ujar Sandy Pramuji di Jakarta, Minggu (8/2/26).

Sandy menambahkan, konsumsi masyarakat sejatinya tidak runtuh. Data menunjukkan konsumsi rumah tangga tumbuh stabil di kisaran 4,53–5,22 persen yoy sepanjang 2023–2024 dan berada di level 4,98 persen pada 2025, menandakan permintaan domestik masih menjadi penopang ekonomi. Namun, tekanan biaya hidup dan ketidakpastian membuat niat belanja tertahan.

“Masyarakat menahan konsumsi bukan karena tak punya uang, tapi karena memprioritaskan keamanan finansial untuk menghadapi risiko ekonomi ke depan,” tuturnya.

Tekanan semakin terasa ketika upah riil mulai tergerus. Pada Agustus 2025, kenaikan upah hanya 1,94 persen yoy, tertinggal dari inflasi 2,31 persen yoy, yang berarti upah riil terkontraksi sekitar 0,37 persen. Kondisi ini, menurut Sandy, menjadi sinyal bahwa pendapatan pekerja tak lagi cukup mengimbangi kenaikan harga.

“Kontraksi upah riil ini menunjukkan daya beli sedang ditekan, karena pendapatan tak mampu mengejar laju inflasi,” katanya.

Gejala serupa terlihat pada Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) yang turun dari 120,2 pada Juni 2025 ke 112,9 pada September 2025, sebelum pulih terbatas di akhir tahun. Dari sisi ketenagakerjaan, penambahan tenaga kerja pada Agustus 2025 hanya 1,89 juta orang, jauh di bawah capaian Agustus 2024 yang mencapai 4,79 juta orang.

Ia juga menyoroti ketimpangan kondisi keuangan rumah tangga. Tabungan nasional memang tumbuh 12,1 persen yoy pada November 2025, tetapi didorong kelompok simpanan besar di atas Rp1 miliar. Sebaliknya, tabungan kelompok menengah dan bawah justru stagnan dan cenderung menurun.

“Fenomena precautionary saving ini menunjukkan ruang finansial rumah tangga tidak membaik merata. Kelompok atas menambah simpanan, sementara kelompok menengah-bawah bertahan dengan bantalan keuangan yang makin menipis,” imbuh Sandy. (P-Khalied M)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025