457 penyintas bencana Aceh Tengah bangkit lewat pendampingan jiwa Kemenkes-FIK UI. (Berita Proioritas/ivan)PRIORITAS, 31/12/2025 (Aceh Tengah): Ketika banjir dan longsor melanda Kabupaten Aceh Tengah, yang tersisa bukan hanya lumpur, rumah rusak, dan jalan terputus. Di balik itu, ada luka yang tak kasat mata—trauma, ketakutan, dan kecemasan yang membekas di benak para penyintas.
Menjawab kebutuhan tersebut, Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI bersinergi dengan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI), UPTDK RSJ Prof. Dr. M. Ildrem, serta Dinas Kesehatan Aceh Tengah, menghadirkan layanan Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) bagi korban bencana.
Aksi kemanusiaan yang berlangsung selama empat hari, 23–26 Desember 2025, ini menjangkau 457 warga terdampak dari berbagai kelompok usia—mulai dari ibu hamil, anak-anak, remaja, hingga lansia—di enam titik pengungsian utama: Blangmersa, Kebayakan, Ketol, Kenawa, Tebuk, dan Kayu Kul.
Dipimpin Ketua Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI, Agus Jamaludin, SKM., M.Kes, dan berlandaskan arahan keilmuan dari pakar keperawatan jiwa Prof. Dr. Budi Anna Keliat, M.App.Sc, tim bergerak cepat untuk memitigasi dampak psikologis pascabencana.
“Bencana tidak hanya merusak fisik, tetapi juga mengguncang kesehatan mental masyarakat. Pendampingan ini penting agar penyintas bisa kembali berfungsi dan menata hidup,” ujar Agus Jamaludin.
Pendekatan yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan tiap kelompok. Bagi orang dewasa, tim menerapkan teknik manajemen stres seperti relaksasi napas dalam, relaksasi otot progresif, hipnotis lima jari, hingga teknik thought stopping untuk menghentikan pikiran negatif berulang.
Sementara itu, bagi anak-anak dan remaja, suasana pemulihan dibangun dengan metode yang lebih empatik dan menyenangkan. Teknik Butterfly Hug, grounding, serta sesi membangun harapan menjadi sarana untuk mengembalikan rasa aman dan menumbuhkan optimisme masa depan.
Perubahan mulai terasa. Tangis dan tatapan kosong perlahan berganti senyum. Anak-anak kembali tertawa, dan para orang tua menunjukkan semangat baru untuk bangkit.
“Terima kasih atas pendampingan ini. Anak-anak sudah bisa ceria lagi, dan warga mulai berani menatap hari esok,” ungkap Reje Ramlan, Ketua Adat Desa Kayu Kul.
Apresiasi juga disampaikan Bupati Aceh Tengah Drs. Haili Yoga, M.Si, yang menilai pemulihan mental sebagai fondasi penting dalam rehabilitasi pascabencana.
“Ketahanan jiwa adalah kunci agar masyarakat mampu bangkit dan beradaptasi kembali,” ujarnya.
Aksi kemanusiaan ini turut melibatkan tenaga profesional lintas institusi, di antaranya Budiman, SKM., M.Kes (Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI), Melissa N. Samosir, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.J (UPTDK RSJ Prof. Dr. M. Ildrem), Ns. Farida Eriyani, S.Kep., MKM (RSUD Datu Beru), serta Serirasona, S.Psi (Dinkes Aceh Tengah).
Di Aceh Tengah, air memang telah surut. Namun lewat sentuhan empati dan ilmu, luka jiwa para penyintas perlahan dirawat—membuka jalan menuju pemulihan yang lebih utuh dan manusiawi. (P-*/bwl)