Gelaran SEA Games ke-33 Thailand telah usai, tetapi kebanggaan para atlet Indonesia tetap menguat saat menerima apresiasi langsung dari Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta. (BPMI Setpres)PRIORITAS, 10/1/2026 (Jakarta): SEA Games ke-33 di Thailand memang telah usai, tetapi perjuangan para atlet Indonesia belum berhenti. Apresiasi langsung dari Presiden Prabowo Subianto, Kamis 8 Januari 2026 lalu menjadi penanda bahwa setiap tetes keringat mereka mendapat tempat terhormat di negeri ini.
Di balik barisan medali yang berkilau, tersimpan kisah-kisah manusiawi. Martina Ayu Pratiwi, atlet triathlon yang membawa pulang tujuh medali—lima emas dan dua perak—nyaris tak menyangka berdiri di Istana sebagai wakil atlet.
Momen itu terasa semakin personal karena bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Bagi Martina, penghargaan tersebut bukan sekadar simbol prestasi, melainkan suntikan semangat untuk masa depan dan investasi hidupnya sebagai atlet.
Cerita berbeda datang dari Dewi Laila, atlet menembak yang menorehkan emas dalam kondisi hamil. Tanpa ekspektasi berlebih, ia bertanding dengan prinsip nothing to lose. Justru dari ketenangan itulah emas lahir. Ke depan, Dewi memendam mimpi sederhana namun tinggi: kembali ke lapangan setelah melahirkan dan membawa Merah Putih ke level Asian Games hingga Olimpiade.
Sementara itu, Rizki Juniansyah, lifter yang memecahkan rekor dunia, tak mampu menyembunyikan haru. Apresiasi Presiden baginya adalah kehormatan sekaligus beban tanggung jawab. Ia menyadari, setiap prestasi bukan akhir, melainkan awal dari tantangan yang lebih berat—menjaga nama Indonesia, institusi, dan olahraga yang ia cintai.
Meski berasal dari cabang olahraga berbeda, ketiganya bertemu pada satu titik yang sama: konsistensi, disiplin, dan pengorbanan.
Apresiasi Presiden Prabowo hari itu bukan sekadar penutup kisah SEA Games, tetapi babak baru perjalanan panjang para atlet menuju panggung dunia. Di Istana Negara, harapan-harapan itu kembali diteguhkan—bahwa mimpi besar selalu lahir dari kerja keras yang tak pernah berhenti. (P-*/bwl)