AS tangkap dan adili tiga insinyur asal Iran yang curi data Google

Jeffry Wuisan
Selasa, 24 Februari 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 24/2/26 (Washington): Aparat penegak hukum Amerika Serikat (AS) menangkap dan mengadili tiga insinyur asal Iran, yang mencuri data saat bekerja di perusahaan teknologi Google dan Qualcomm di Silicon Valley.

Ketiga insiyur itu adalah wanita Samaneh Ghandali (41 tahun) dan suaminya Mohammadjavad Khosravi (40) serta Soroor Ghandali (32).

Menurut informasi yang diperoleh Beritaprioritas.com dari situs Department of Justice (DoJ) atau Departemen Kehakiman AS, hari Selasa (24/2/26), mereka ditangkap Federal Bureau Investigation (FBI) atau Biro Investigasi Federal pada 19 Februari 2026 di San Jose.

Mereka mulai diadali di pengadilan distrik federal di San Jose, California awal pekan ini. Ketiganya tinggal di San Jose, AS.

Samaneh lebih dulu bekerja di Google. Dia mengajak adiknya, Soroor,  dan bekerja di Google dengan visa pelajar. Ia juga pernah bekerja di perusahaan Intel Corp.

Sedangkan Mohammadjavad Khosravi, bekerja di Qualcomm. Belakangan diketahui ia mantan militer Iran.

Sorour Ghandali, ternyata anak pejabat rezim Islam Iran, Shahabuddin Ghandali, pendiri Bank Sarmayeh dan mantan CEO Dana Tabungan Farhangian di Iran.

Mereka mencuri data rahasia prosesor Google Tensor – Chip khusus yang mendukung ponsel Pixel, terutama arsitektur dan spesifikasi desain lengkap untuk keamanan perangkat keras.

 

Dikirim ke Iran

Dewan juri federal AS telah mendakwa tiga insinyur tersebut, karena mencuri rahasia dagang dari perusahaan teknologi AS dan mengirim informasi tersebut ke Iran.

Jaksa penuntut mengatakan warga negara Iran tersebut menyalahgunakan ratusan file tentang keamanan prosesor ponsel pintar Pixel dan mengaksesnya selama perjalanan mereka ke Iran pada tahun 2023.

Baik Samaneh maupun Soroor Ghandali pernah bekerja di Google sebelum pindah ke perusahaan lain.

“Mereka dituduh mencuri informasi dari Google dan perusahaan lain dan meneruskannya ke perangkat kerja yang terkait dengan perusahaan tempat mereka bekerja, dan ke Iran,” kata pernyataan Kantor Kejaksaan AS.

Pengumuman ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, setelah Presiden AS Donald Trump mengancam melancarkan serangan militer terhadap Iran, jika perjanjian nuklir tidak tercapai kesepakatan.

Jaksa menuduh ketiganya menyalahgunakan posisi mereka di perusahaan yang bergerak di bidang prosesor komputer portabel,  untuk mendapatkan akses ke data sensitif, termasuk informasi terkait keamanan data, sebelum mentransfernya ke Iran.

“Tindakan yang dituduhkan kepada mereka mencerminkan pengkhianatan kepercayaan yang terencana dengan mencuri rahasia dagang dari perusahaan teknologi yang mempekerjakan mereka,” kata Agen Khusus FBI yang bertanggung jawab, Sanjay Virmani, dalam sebuah pernyataan.

 

Terdeteksi

Meskipun pernyataan tersebut tidak secara eksplisit menuduh para terdakwa melakukan spionase untuk rezim Iran, ketiganya dituduh menghalangi penyelidikan atas tindakan mereka.

Para insinyur tersebut diduga berupaya menyembunyikan tindakan mereka, termasuk dengan menghancurkan berkas-berkas yang dicuri dan catatan lain dari perangkat elektronik.

Sistem keamanan internal Google sudah mendeteksi aktivitas Samaneh Ghandali dan Google langsung mencabut aksesnya ke sumber daya perusahaan pada Agustus 2023.

Samaneh Ghandali dan Khosravi melakukan perjalanan ke Iran pada Desember 2023, dan perangkat pribadi yang terkait dengannya mengakses dokumen-dokumen sensitif selama waktu itu.

Ketiga orang itu dijadwalkan untuk hadir di hadapan Hakim Magistrat AS pada hari Jumat.

Jika terbukti bersalah, masing-masing menghadapi hukuman maksimal 10 tahun penjara dan denda $250.000 untuk setiap dakwaan konspirasi pencurian rahasia dagang.

Mereka juga terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara dan denda $250.000 untuk dakwaan penghalangan.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025