Sebelum AS dan Israel menyerang, Iran telah menutup dengan tanah liat pintu masuk terowongan bawah tanah situs nuklir Isfahan yang diduga kuat tempat penyimpanan uranium bahan bom nuklir. (x)PRIORITAS, 17/3/26 (Washington): Amerika Serikat (AS) dan Israel kemungkinan akan melakukan kemungkinan akan melakukan operasi pasukan khusus terbesar dalam sejarah dengan melibatkan lebih dari 1.000 tentara, untuk menyita uranium bahan senjata nuklir Iran.
“Lebih dari 1.000 personel mungkin dibutuhkan di lokasi untuk mengamankan fasilitas situs nuklir Isfahan, menggali puing-puing untuk mencari material nuklir tingkat mendekati senjata nuklir, di tengah gempuran rudal dan drone Iran”, lapor Times of Israel, seperti dikutip Beritaprioritas.com hari Selasa (17/3/26).
Laporan media AS, The Wall Street Journal, mengutip para ahli keamanan AS dan Israel, menyebutkan untuk merebut persediaan uranium milik Iran itu, akan membutuhkan operasi pasukan khusus terbesar dalam sejarah.
Ketika jet tempur Amerika Serikat dan Israel membom tiga situs nuklir utama Iran pada Juni 2025 lalu, rezim tersebut diyakini memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen.
Kadar itu selangkah lagi menuju material tingkat senjata nuklir, cukup untuk membuat sekitar sepuluh bom nuklir.
Hampir 200 kilogram lainnya, dengan pengayaan 20 persen, juga diyakini berada dalam kepemilikan rezim tersebut.
Uranium tingkat senjata nuklir mempunyai kadar yang diperkaya hingga 90 persen.
Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, mengatakan pekan lalu sekitar setengah dari uranium yang diperkaya 60 persen terkubur di kompleks terowongan bawah tanah di lokasi nuklir Isfahan di Iran.
Sebuah laporan awal bulan ini mengatakan AS percaya ada titik akses sangat sempit, yang berpotensi dapat digunakan Iran untuk mengambil material tersebut.
Kemungkinan dihancurkan
Perebutan uranium di tengah perang akan membutuhkan operasi besar-besaran, yang menurut mantan komandan NATO, James Stavridis, bisa menjadi operasi pasukan khusus terbesar dalam sejarah.
Mantan pejabat militer AS mengatakan dibutuhkan sedikitnya lebih dari 1.000 personel militer di lokasi dan sekitar terowongan bawah tanah Iran.
Pasukan tempur tersebut perlu mengamankan perimeter, sementara para insinyur menggali berton-ton puing sambil memeriksa ranjau dan jebakan.
Untuk mengantarkan peralatan ke lokasi dan memindahkan material yang berhasil didaur ulang keluar negeri, diperlukan lapangan terbang lokal.
Jika tidak ada, lapangan terbang darurat harus dibangun sebagai bagian dari operasi tersebut. Hal ini membutuhkan waktu dan operasi peralatan terpadu dari pasukan zeni tempur.
Pasukan khusus AS dan Israel yang berada di lokasi penyimpanan uranium, kemungkinan akan menjadi sasaran serangan drone dan rudal Iran.
Untuk mengantisipasi hal itu, pasukan darat dan sejumlah pesawat jet tempur, perlu menangkis atau memusnahkan serangan tersebut.
Laporan tersebut juga mencatat kemungkinan untuk mengencerkan atau menghancurkan material tersebut daripada memindahkannya, meskipun hal ini akan membawa risiko kontaminasi nuklir di area tersebut.
Iran berbohong
Pada hari Minggu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan kepada CBS fasilitas nuklir Iran diserang dan semuanya berada di bawah reruntuhan.
Dia mengatakan rezim Iran tidak memiliki rencana untuk mengambil kembali material tersebut, tetapi juga tidak bersedia bernegosiasi tentang masa depan persediaan tersebut saat berada di bawah serangan AS dan Israel.
Presiden AS Donald Trump, pekan lalu menyatakan tidak ada rencana untuk menyita uranium yang ditimbun Iran itu.
“Kami tidak fokus pada hal itu. Tapi suatu saat nanti mungkin kami akan fokus. Saat ini kami fokus untuk menghancurkan rudal dan drone mereka”, kata Trump.
Perselisihan yang telah berlangsung lama mengenai program nuklir Iran, akhirnya meningkat menjadi konflik militer pada tanggal 28 Februari 2026.
Saai tu AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran dan Republik Islam tersebut membalas dengan serangan di seluruh Timur Tengah.
Iran yang secara rutin menyerukan penghancuran Israel, menyatakan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan sipil.
Iran ternyata berbohong, karena sebelum perang Juni 2025 lalu, mereka telah memperkaya uranium hingga ke tingkat jauh melampaui apa yang diperlukan untuk aplikasi damai apa pun.
Mereka juga secara konsisten menghalangi inspektur nuklir internasional untuk memeriksa fasilitas nuklirnya.
Israel sudah lama mengatakan Iran sedang mengambil langkah-langkah menuju pembuatan senjata nuklir dengan bahan uranium yang diperkaya. (P-Jeffry W)