
Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Provinsi Gorontalo, Mohamad Tahir Laendeng, saat menunjukkan peta penyebaran karhutla, di ruang command center Pusdalops BPBD Provinsi Gorontalo, Senin (10/8/26). (‘Courtesy’ Antara/Zulkifli Polimengo)PRIORITAS, 10/8/26 (Gorontalo): Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menghantui sejumlah wilayah di Provinsi Gorontalo selama musim kemarau panjang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo mencatat sekitar 20 kejadian karhutla terjadi di Kabupaten Bone Bolango dalam sebulan terakhir.
Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Provinsi Gorontalo Mohamad Tahir Laendeng mengatakan Bone Bolango menjadi daerah dengan frekuensi karhutla tertinggi selama periode tersebut. Kondisi itu menunjukkan ancaman kebakaran semakin serius ketika kemarau berlangsung panjang.
“Untuk kebakaran hutan dan lahan ini, kami menerima laporan kemarin ada sekitar 20 kali kejadian di wilayah Bone Bolango,” kata Tahir di Gorontalo, Senin (10/8/2026).

Selain Bone Bolango, kebakaran juga melanda wilayah Kota Gorontalo. BPBD mencatat hampir 10 kejadian karhutla terjadi di wilayah tersebut selama sebulan terakhir.
Namun, tingginya frekuensi kejadian di Bone Bolango dan Kota Gorontalo tidak serta-merta membuat kedua daerah itu menjadi wilayah dengan dampak terparah.
BPBD mencatat Kabupaten Gorontalo Utara mengalami dampak karhutla paling berat. Salah satu kebakaran besar bahkan menghanguskan sebuah perusahaan kayu di Desa Monano, Kecamatan Monano.
Kebakaran juga terjadi di lahan yang berada di belakang kompleks Kantor Bupati Gorontalo Utara. Petugas membutuhkan waktu cukup lama untuk mengendalikan api karena kondisi kebakaran menuntut pengerahan banyak armada dan personel gabungan.
“Proses pemadaman api cukup melelahkan karena membutuhkan banyak armada dan personel gabungan,” ujar Tahir.
Ancaman karhutla di Bone Bolango juga belum mereda. Dalam beberapa hari terakhir, kebakaran masih terjadi di sejumlah lokasi.
Pada pekan lalu, tim gabungan dari Polda Gorontalo, pemadam kebakaran, dan BPBD turun menangani kebakaran di Desa Lombongo, Kecamatan Suwawa.
Kondisi tersebut mendorong BPBD Provinsi Gorontalo memperkuat koordinasi lintas sektor. Langkah itu bertujuan mempercepat respons ketika kebakaran kembali muncul di tengah kondisi kemarau panjang.
Koordinasi melibatkan pemadam kebakaran kabupaten dan kota, PDAM, BPBD kabupaten dan kota, TNI, Polri, serta Palang Merah Indonesia (PMI).
Kolaborasi berbagai unsur tersebut juga membantu mempercepat distribusi air untuk mendukung proses pemadaman karhutla. Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi kebakaran di tengah kondisi kemarau.
Melansir Antara News, BPBD Provinsi Gorontalo mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama kemarau panjang. Warga diminta menghindari berbagai aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Beberapa di antaranya membuang puntung rokok sembarangan, membakar sampah, serta membuka lahan pertanian dengan cara membakar.
BPBD juga meminta masyarakat menggunakan air bersih secara bijak. Warga perlu mengikuti informasi perkembangan cuaca dari otoritas resmi untuk mengantisipasi dampak kemarau.
Tahir meminta masyarakat segera melaporkan persoalan yang muncul akibat kekeringan kepada otoritas setempat. Dengan laporan yang cepat, petugas dapat segera mengambil langkah penanganan.
“Jika terjadi masalah atau dampak yang ditimbulkan akibat kekeringan pada kemarau panjang ini, silakan menghubungi pemegang atau pengendali otoritas setempat agar dapat segera ditindaklanjuti,” katanya. (P-sm)


