Aparat keamanan Iran diduga pakai senjata kimia berbahaya terhadap para pendemo

Jeffry Wuisan
Sabtu, 17 Januari 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 17/1/26 (London): Iran diduga menggunakan serangan bahan kimia beracun untuk membunuh para demonstran anti pemerintah.

Laporan dari pejabat Inggris menyebutkan pasukan keamanan Iran mungkin telah menggunakan senjata kimia atau zat beracun,  untuk mengendalikan aksi protes di seluruh Iran.

Anggota tim kebijakan luar negeri Partai Buruh Inggris, Bill Esterson,  menyampaikan informasi itu dari sebuah laporan yang merinci situasi di salah satu kota besar Iran.

Seperti dikutip Beritaprioritas.com dari Jerusalem Post, hari Sabtu (17/1/2026), penggunaan zat kimia yang menyebabkan kematian tersebut, telah memicu kekhawatiran internasional.

Klaim tersebut dilaporkan pada hari Sabtu selama siaran khusus di jaringan berita Inggris GB News, mengutip dokumen internal yang digambarkan sebagai “kredibel.” Namun, hal itu belum mendapat konfirmasi resmi dari sumber intelijen Barat.

Sebuah video yang diperoleh Iran International menunjukkan pasukan keamanan Iran,  tampaknya menggunakan senjata berbeda untuk menghadapi para pengunjuk rasa di Sabzevar, Iran timur, pada hari Rabu lalu.

Rekaman tersebut banyak petugas mengenakan pakaian pelindung bahan berbahaya (hazmat suit) dan masker,  yang dirancang untuk bahan kimia berbahaya.

Para aparat keamanan Iran itu, berada di atas truk berwarna krem dengan senjata, yang dikerahkan di jalan-jalan Sabzevar.

Dalam video tersebut, terlihat tanda segitiga kuning dengan garis tepi gelap di kendaraan, yang menunjukkan peringatan akan bahan berbahaya.

 

Meninggal beberapa hari

Aspek paling mengkhawatirkan dari laporan Esterson menyangkut tuduhan “zat kimia beracun” digunakan terhadap para demonstran.

Kesaksian menunjukkan zat ini menyebabkan reaksi kesehatan yang tertunda, dengan beberapa korban dilaporkan meninggal beberapa hari setelah terpapar, bukan seketika.

Jumlah orang yang tewas atau terluka akibat penggunaan zat-zat kimia tersebut diyakini sangat tinggi.

Jurnalis Inggris, Patrick Christys menekankan ‘reaksi tertunda’ dari zat kimia itu, membuat sulit untuk segera mengidentifikasi penyebab bahaya.

Ikut terungkap sejarah penggunaan senjata kimia berbahaya, termasuk pembantaian yang dilakukan pasukan Presiden Irak, Saddam Hussein, di mana gas digunakan terhadap ribuan warga sipil Kurdi di Halabja.

Referensi juga dibuat untuk Suriah di bawah rezim Assad, yang telah menghadapi tuduhan menggunakan zat kimia terhadap para pengunjuk rasa.

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi yang dikeluarkan sumber-sumber pemerintah di AS atau Eropa,  mengenai tuduhan-tuduhan di Iran itu.

Meskipun demikian, keberadaan laporan tersebut telah meningkatkan kekhawatiran di kalangan komunitas internasional, yang memantau pelanggaran hak asasi manusia di Republik Islam Iran.

 

Gas hijau

Selama gelombang protes pada tahun 2022, terdapat juga laporan tentang “gas hijau” tak dikenal yang digunakan aparat keamanan terhadap para demonstran di kota-kota Kurdi Javanrud dan Piranshahr.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan asap hijau tebal memenuhi jalanan selama bentrokan kekerasan dengan pasukan keamanan.

Penduduk menjadi panik dan membangkitkan kembali kenangan menyakitkan tentang serangan kimia di masa lalu.

Para ahli medis dan ahli kimia pada waktu itu memperkirakan zat tersebut mungkin adalah heksakloroetana atau adamsit (DM), bahan yang terkadang digunakan untuk membubarkan demonstrasi atau membuat penyamaran militer.

Menurut kesaksian dan evaluasi medis, paparan gas tersebut menyebabkan gejala seperti iritasi kulit parah, mual, disorientasi mental, dan kelumpuhan otot sementara.

Para dokter mencatat,  meski zat tersebut tidak mematikan seperti gas saraf militer,  zat tersebut dianggap karsinogenik (beracun menyebabkan kanker) dan terutama ditujukan untuk menanamkan rasa takut di antara para demonstran.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025