Amsakar-Li Claudia di tahun pertama: Menakar langkah, menata arah Batam

Johanes Christiaan
Jumat, 20 Februari 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 20/2/2026 (Batam): Setahun sudah sejak Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra dilantik pada 20 Februari 2025 sebagai pemimpin kota Batam. Tepat di momen jelang satu tahun ini, kepemimpinan yang dikenal dengan nama ASLI berdiri di persimpangan evaluasi: bukan semata menagih hasil, tetapi membaca arah perjalanan.

Suasana refleksi itu terasa sejak awal Februari. M. Nur, Ketua Pemenangan ASLI, terlihat bersantai bersama keduanya di kawasan Alun-Alun Engku Putri, seakan memberi ruang jeda di tengah dinamika yang terus bergulir. Sebab setahun pertama memang bukan panggung gemerlap, melainkan ruang penataan fondasi.

Melangkah bertakar

ASLI sejak awal memilih jalan yang tidak riuh. Mereka bergerak seperti orang Melayu menimbang langkah: “menakar sebelum melangkah, membaca sebelum memutus.” Kota ini tidak serta-merta berubah rupa, tetapi mulai mengubah cara berjalan—lebih stabil, lebih berhitung.

Harapan masyarakat, keresahan yang tumbuh, dan kesabaran yang diuji merupakan bagian dari fase alami sebuah perubahan arah. Setahun pertama bukan soal kecepatan hasil, melainkan kejelasan kompas.

Persoalan air bersih di Batam adalah masalah warisan yang menua bersama pertumbuhan kota. Ia bukan sekadar teknis, tetapi simpul yang lama dibiarkan mengeras.

Kepemimpinan ASLI memilih menyentuh simpul itu, meski tahu risikonya. Mereka membongkar persoalan dari hulu, memetakan kembali alur pasokan, dan menyiapkan pembenahan menyeluruh. Belum ada keajaiban seketika, belum semua keran mengalir serentak. Yang terlihat baru “kerja sunyi”: kajian, penataan ulang, dan keberanian menanggung kritik.

Bagi warga, menunggu air adalah ujian kesabaran. Namun perbedaannya, pemerintah kini tidak menghindar—mereka hadir menjelaskan, menenangkan, dan tetap bekerja.

Dalam hikmah Melayu, air keruh tak dijernihkan dengan mengaduknya keras-keras, melainkan ditenangkan hingga beningnya kembali. Kebijakan air di Batam sedang berada di fase itu.

Jika air tersembunyi di bawah tanah, sampah adalah wajah kota yang paling jujur. Ia terlihat setiap hari dan cepat menjadi bahan penilaian. Namun urusan sampah tak pernah selesai hanya dengan respons spontan; ia membutuhkan sistem dan disiplin kolektif.

ASLI memilih membenahi alurnya: armada, tata kelola, dan pelibatan warga. Langkah ini tidak sedramatis aksi bersih-bersih instan, tetapi lebih menjanjikan keberlanjutan. Kota tidak hanya dibereskan; ia ditata.

Membaca angin sejarah kota

Orang Melayu percaya, membersihkan halaman tanpa menjaga pintu hanya mengundang kotoran kembali. Begitu pula kota. Maka satu tahun ini bukan masa menuai, melainkan merapikan fondasi sebelum bangunan ditinggikan.

Waktu akan menjadi hakim paling adil. Jika ASLI tetap teguh pada pilihan yang tidak selalu populer, kelak langkah ini akan terbaca sebagai kepemimpinan yang “bertakar dan bertuah”—pelan, terukur, tetapi mengarah. (P-Jeff K)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025