Rusia blokir Whatsapp, lebih 100 juta pengguna terancam

Jeffry Wuisan
Jumat, 13 Februari 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 13/2/26 (Moskow): Pemerintah Rusia kini telah memerintahkan pemblokiran sepenuh penggunaan aplikasi komunikasi WhatsApp di tengah masyarakatnya.

Tindakan ini diduga kuat sebagai upaya Rusia untuk memperketat pengawasan terhadap pengguna aplikasi komunikasi di negara tersebut.

Akibat pemblokiran tersebut, sebanyak lebih dari 100 juta pengguna Whatsapp di Rusia terancam tak bisa lagi dapat berkomunikasi secara privat (pribadi).

Seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Jumat (13/2/2026), pihak WhatsApp, yang dimiliki Meta, mengatakan langkah tersebut bertujuan untuk mendorong pengguna aplikasinya di Rusia pindah ke aplikasi pengawasan milik negara Rusia.

Financial Times melaporkan, aplikasi Whatsapp telah dihapus dari direktori online badan pengawas komunikasi Rusia, Roskomnadzor.

Juru bicara Kremlin,  Dmitry Peskov,  mengatakan kepada BBC,  keputusan tersebut diambil karena [Meta] tidak mau mematuhi norma dan ketentuan hukum Rusia.

Pemerintah Rusia sejak tahun lalu sudah meluncurkan aplikasi tandingan bernama Max. Namun banyak warga Rusia enggan menggunakannya, karena dicurigai diawasi badan intelijen pemerintah, FSB.

Aplikasi Max buatan Rusia, menurut para kritikus tidak memiliki enkripsi ujung-ke-ujung (end to end encription) seperti Whatsapp dan karenanya dapat ditembus pihak berwenang.

Aplikasi ini disamakan dengan WeChat milik China – yang disebut sebagai “aplikasi super” yang menggabungkan layanan perpesanan dan layanan pemerintah.

Rusia mewajibkan warganya hanya bisa memakai aplikasi Max sebagai pengganti Whatsapp. Max diketahui dimata-matai badan intelijen Rusia, FSB.(intcyberdigest)

 

Diwajibkan

Sejak tahun 2025, pihak berwenang Rusia telah mewajibkan aplikasi Max untuk diinstal sebelumnya di semua perangkat baru yang dijual di negara tersebut.

Terdapat laporan pegawai sektor publik, guru, dan siswa semakin banyak yang diwajibkan negara menggunakan platform tersebut.

CEO Telegram, pengusaha kelahiran Rusia, Pavel Durov, mengatakan Rusia membatasi akses ke layanannya dalam upaya memaksa rakyatnya, untuk menggunakan aplikasi milik negara Rusia dengan tujuan pengawasan dan sensor politik.

Iran telah mencoba strategi serupa untuk melarang Telegram dan mendorong warganya ke alternatif yang dikelola negara, tetapi warga telah menemukan cara untuk mengakali hal ini, tulisnya di media sosial.

“Membatasi kebebasan warga negara bukanlah jawaban yang tepat,” kata Durov.

Warga Rusia baru-baru ini menulis di X, aplikasi kebanggaan nasional Rusia, “Max Messenger”, telah diretas.

Sebanyak 15,4 juta akun dengan nama lengkap, nama pengguna, dan nomor telepon terverifikasi telah bocor gara-gara memakai Max. Bukti termasuk data dari anggota Duma Negara, Brykin.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025