Seorang tentara Ukraina berdiri memperhatikan puluhan tentara Rusia yang terbaring di tanah setelah penyergapan dari Brigade serang Ukraina di sebuah wilayah.(@tendar)PRIORITAS, 30/1/26 (Washington): Invasi Rusia yang menyebabkan perang dengan Ukraina telah menyebabkan korban jiwa hampir 2 juta tentara. Jumlah korban ini paling besar dalam konflik apapun sejak Perang Dunia ke II.
“Jumlah tentara yang tewas, terluka, atau hilang di kedua pihak dalam perang Rusia di Ukraina bisa mencapai dua juta pada musim semi”, demikian peringatan sebuah laporan.
Menurut laporan terbaru yang dilakukan Pusat Studi Strategis dan Internasional, seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Jumat (30/1/2026), Rusia menderita kerugian terbesar dengan 1,2 juta korban jiwa, termasuk hingga 325.000 kematian tentara, antara Februari 2022 dan Desember 2025.
Perang yang berkobar hebat akibat invasi Rusia itu dinilai sangat mematikan dan membuat banyak warga menderita.
Militer Rusia melakukan invasi skala penuh ke Ukraina pada 24 Februari 2023. Pada tahun pertama perang, diperkirakan ratusan ribu tentara Rusia tewas akibat terjebak medan yang lebih dikuasai pihak Ukraina.
Memasuki tahun keempat perang, laporan tersebut menyatakan Rusia menderita korban jiwa tentara sangat banyak.
“Tidak ada kekuatan besar yang menderita jumlah korban jiwa atau kematian sebanyak ini dalam perang apa pun sejak Perang Dunia II,” kata laporan itu, seperti dirilis media The Independent.

Sejumlah tentara Rusia, memikul peti jenazah rekan mereka yang tewas dalam perang dengan Ukraina.(@arthurrehi)
Lebih kecil
Sementara di pihak Ukraina dengan angkatan darat dan populasi yang lebih kecil, hanya menderita antara 500.000 hingga 600.000 korban militer, termasuk hingga 140.000 kematian.
Angka-angka tersebut digambarkan menjadi pukulan bagi Rusia, karena kemajuan negara itu di Ukraina tetap berada dalam perang yang berkepanjangan.
Para analis mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin juga tidak terburu-buru untuk mencari penyelesaian, meskipun tentaranya mengalami kesulitan di garis depan sepanjang kurang lebih 1.000 kilometer (600 mil).
Putin malah berulang kali mengatakan Rusia akan merebut seluruh wilayah Donbas di Ukraina, meskipun sudah bertahun-tahun pasukan Moskow nyatanya belum mampu menguasainya.
Akhir pekan ini, putaran ketiga negosiasi antara kedua negara, yang dimediasi AS, akan berlangsung dengan tujuan mengakhiri perang.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan upaya aktif sedang dilakukan untuk mendamaikan masalah teritorial Donetsk di Donbas.
Ia menggambarkan perselisihan wilayah tersebut sebagai isu utama, yang masih tersisa dan “sangat sulit” untuk diselesaikan.
Ukraina telah menyatakan tidak akan memberikan wilayah kepada Rusia, yang gagal direbut Moskow di medan perang.
“Ini masih jembatan yang harus kita lewati. Ini masih jurang yang dalam, tetapi setidaknya kita telah mampu mempersempit masalahnya menjadi satu masalah utama, dan itu mungkin akan menjadi masalah yang sangat sulit,” kata Rubio dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat.

Setidaknya tiga warga sipil tewas dan beberapa lainnya terluka akibat serangan Rusia di wilayah Zaporizhzhia semalam..(kyivpost)
Rusia terus menyerang
Meskipun upaya perdamaian masih berlangsung, Rusia tetap menyerang Ukraina.
Serangan terbaru Rusia menewaskan sepasang suami istri di dekat Kyiv dan menghantam kota Odesa di selatan, sehari setelah serangan pesawat tak berawak menewaskan lima orang di sebuah kereta penumpang.
Presiden Volodymyr Zelensky mengutuk serangan tersebut karena mengenai lingkungan perumahan, tanpa target militer di dekatnya.
“Kami akan menanggapi Rusia secara adil atas serangan ini dan serangan serupa lainnya”, tegasnya.
Beberapa kebakaran dilaporkan terjadi, dengan tim darurat memadamkan kebakaran besar di sebuah perguruan tinggi konstruksi dan arsitektur di kota tersebut.
Layanan darurat mengatakan situs-situs keagamaan termasuk sebuah biara mengalami kerusakan akibat pemboman tersebut.
Selain itu, serangan Rusia sengaja menyasar infrastruktur energi, sehingga menyebabkan ratusan ribu penduduk mengalami resiko dalam musim dingin ini karena tanpa pemanas.

Seorang anak dengan baju tebal berdiam dalam tenda di sebuah rumah di Kyiv mencegah kedinginan tanpa pemanas setelah aliran listrik putus akibat serangan Rusia.(kyivpost)
Tolak bertemu di Moskow
Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengajak residen Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu di Moskow.
Namun Zelenskyy secara terbuka menolak dan justru mengundang Putin datang ke ibukota Ukraina di Kyiv. “Jika dia berani”, kata Zelenskyy.
Zelenskyy menyatakan kesepakatan akhir tentang rencana perdamaian, hanya dapat dicapai pada pertemuan para pemimpin. Dia mengatakan siap untuk format puncak apa pun, tetapi tidak di Moskow atau Belarus, negara kroni pendukung Rusia.
Zelenskiy juga menambahkan jika Rusia menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina, Ukraina akan menahan diri dari menyerang target energi di Rusia.
“Ini bukan kesepakatan. Ini kesempatan. Jika Rusia tidak menyerang kami, kami tidak akan menyerang balik”, tekannya.
Menurut Zelenskyy saat ini tidak ada kesepakatan gencatan senjata resmi tentang energi.

Presiden Ukraina,Volodymyr Zelenskyy, menolak bertemu Presiden Rusia di Moskow. Ia juga tak mau menyerahkan wilayah Donbas yang diminta Rusia.(kyivpost)
Kedaulatan Ukraina
Dia mencatat inisiatif untuk menghentikan serangan terhadap target energi berasal dari AS, secara pribadi dari Presiden Trump, menyebutnya sebagai kesempatan daripada kesepakatan formal.
Selama pembicaraan di Abu Dhabi, AS mengusulkan agar baik Moskow maupun Kyiv menahan diri dari serangan jarak jauh.
Zelenskyy mengatakan Rusia telah menghentikan pertukaran tahanan dan bahwa tidak ada kompromi tentang wilayah yang telah dicapai.
“Tuntutan ketat terhadap Ukraina bukan kompromi. Kami siap untuk kompromi yang mengarah pada akhir perang yang nyata, tetapi pastinya bukan dengan mengorbankan kedaulatan Ukraina,” lanjutnya.
Zelensky percaya jaminan keamanan dari Amerika Serikat harus ditandatangani sebelum kesepakatan damai yang komprehensif diselesaikan dengan Rusia.
Dia menilai jaminan tersebut sangat penting karena masyarakat Ukraina perlu melihat kemajuan yang nyata.
“Banyak pekerjaan yang telah dilakukan, tetapi orang perlu percaya pada kemajuan ini. Setelah perang yang begitu sulit, kepercayaan sulit didapat, jadi harus ada sesuatu yang konkret untuk diandalkan. Dalam hal ini, hal terpenting yang bisa diandalkan orang adalah jaminan keamanan,” kata Zelenskyy.(P-Jeffry W)