
Naveed Akram, 24 tahun, berhasil ditembak polisi saat melakukan serangan teror di pantai Bondi pada Minggu, 14 Desember. 2025. (9news)PRIORITAS, 17/12/25 (Sydney): Pelaku penembakan massal di acara Hanukkah di pantai Bondi, Sydney, Australia, Naveed Akram, didakwa dengan 59 pelanggaran termasuk 15 tuduhan pembunuhan.

Tersangka pelaku Naveed yang belum lama siuman langsung dihadapkan dalam sidang cepat secara daring (online) dengan hakim yang berada di gedung Pengadilan sedangkan tersangka di rumahsakit.
“Naveed Akram telah didakwa dengan 59 pelanggaran setelah insiden teroris yang menewaskan 15 orang dan melukai 41 lainnya di Pantai Bondi pada hari Minggu”, demikian pernyataan pihak kepolisian setempat seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Rabu (17/12/25).
Pria berusia 24 tahun itu terbangun dari koma di rumah sakit kemarin, setelah mengalami luka parah akibat tembakan para petugas polisi saat terjadi baku tembak di lokasi penembakan massal di pantai Bondi.

Tim Gabungan Kontra Terorisme New South Wales (NSW), yang terdiri dari Kepolisian NSW, Australian Federal Police (AFP), ASIO, dan Komisi Kejahatan NSW, mendakwanya dengan sejumlah pelanggaran terkait insiden tersebut.
Tindak pidana tersebut meliputi 15 dakwaan pembunuhan, melakukan tindakan terorisme, dan 40 dakwaan menyebabkan luka/cedera tubuh berat pada seseorang dengan maksud membunuh.
Ia juga mendapat dakwaan menembakkan senjata api dengan maksud menyebabkan cedera tubuh berat, menampilkan simbol organisasi teroris terlarang di depan umum, dan menempatkan bahan peledak di dalam/dekat bangunan dengan maksud menyebabkan kerugian.
Menolak bicara
Naveed Akram telah menghadapi persidangan melalui siaran langsung dari tempat tidurnya di rumah sakit.
Kondisinya belum cukup baik untuk dipindahkan ke penjara dan akan tetap dirawat di rumah sakit di bawah pengawasan polisi.
Ayahnya, Najid Akram (50 tahun) yang juga pelaku penembakkan massal, sudah tewas terbunuh akibat ditembak petugas polisi di lokasi kejadian di pantai Bondi.
Dia menolak untuk berbicara dengan polisi, yang menunggu tiga hari hingga efek obatnya hilang sebelum mendakwanya.
“Agar kami dapat melakukan itu, penting baginya untuk memiliki kemampuan kognitif yang memadai pada saat ia sedang mengonsumsi obat, kami akan memperjuangkan keadilannya,” kata Komisaris Polisi NSW, Mal Lanyon dalam konferensi .
Beberapa pengacara telah dihubungi untuk mewakili Akram, tetapi mereka menolak.
Sebanyak 15 orang, berusia antara 10 dan 87 tahun, tewas dalam peristiwa tragis itu dan 41 orang lainnya terluka.
Di Pengadilan nanti, Polisi akan menyatakan Naveed melakukan tindakan yang menyebabkan kematian, cedera serius, dan membahayakan nyawa untuk memajukan tujuan keagamaan dan menimbulkan ketakutan di masyarakat.
“Investigasi awal menunjukkan bahwa itu adalah dugaan serangan teroris yang terinspirasi oleh ISIS, sebuah organisasi teroris yang terdaftar di Australia,” demikian bunyi pernyataan Kepolisian NSW.
Penyelidikan telah meluas melintasi batas negara, setelah dipastikan ayah dan anak tersebut telah mengunjungi Filipina selama 28 hari pada bulan November 2025 lalu.
Naveed lahir di Australia, sedangkan ayahnya, Sajid, berasal dari Hyderabad, India.
Sajid berimigrasi ke Australia pada tahun 1998, tetapi menggunakan paspor Indianya untuk mengunjungi Filipina.
Pihak berwenang sudah berbicara dengan keluarga dan teman-temannya di luar negeri, yang mengatakan mereka hampir tidak berhubungan dengannya selama 30 tahun terakhir. (P-Jeffry W)

